Kota Jogja

Penataan Kawasan Mangkubumi Bertujuan untuk Menopang Malioboro

Eko menjelaskan bahwa sebelum Belanda membangun rel kereta api pada tahun 1800-an, kawasan Mangkubumi dan Malioboro menjadi satu kesatuan.

Penataan Kawasan Mangkubumi Bertujuan untuk Menopang Malioboro
ist
Lalu lintas di jalan Mangkubumi, Jumat (6/7/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Kota Yogyakarta, dalam hal ini Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kota Yogyakarta, menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Wilayah (RTBL) kawasan Mangkubumi, di Hotel @HOM Kota Yogyakarta, Rabu (25/7/2018).

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kota Yogyakarta, Harry Satya Wacana menjelaskan bahwa sesuai dalam peraturan Daerah (Perda) nomor 2 tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Yogyakarta dijelaskan bahwa kawasan mangkubumi termasuk dalam zona penyangga lindung alam dan budaya.

"Di dalam Perdais nomor 2 tahun 2017 diejlaskan lebih lanjut bahwa zona penyangga merupakan satuan ruang yang memiliki pengaruh dan berdampak langsung terhadap zona inti yang ditetapkan untuk mendukung fungsi, nilai, dan karakter zona inti. Kawasan inti tersebut meliputi Tugu Paal Putih hingga Keraton termasuk jalan Malioboro yang dikembangkan sebagai semi pedestrian," tandasnya, Rabu (25/7/2018).

Baca: Wacanakan Konsep Jogja Cyber Province, JCI Dialog Dengan GKR Mangkubumi

Ia menambahkan, Kawasan Mangkubumi sebagai zona penyangga berpotensi mengalami pergeseran fungsi dan kerusakan fisik dalam perkembangannya mendukung kawasan ini.

"Seiring semakin berkembangnya berbagai fungsi, terjadi pemanfaatan ruang yang tidak terkendali di kawasan Mangkubumi. Untuk itu diperlukan penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan. Produk dari RTBL ini harapannya nanti kita kemas dan kita lebarkan menjadi Perwal dengan adanya Perwal untuk RTBL kawasan ini nanti menjadi semacam panduan dalam kajian," bebernya.

Materi pokok dalam RTBL tersebut, lanjutnya, meliputi progam bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan atau kawasan.

Sementara itu, Tim Konsultan CV Rekayasa Jati Mandiri, Eko Santoso menjelaskan bahwa kawasan Mangkubumi memiliki luasan sekitar 100 hektare dengan batas sisi timur adalah kali code, sisi utara Jalan Diponegoro sisi barat Jalan Tentara Pelajar, dan di sisi selatan adalah Jalan Pasar Kembang serta rel kereta api.

"Lokasi dan panjang jalan Mangkubumi dari Tugu sampai rel 750 meter, kalau dari jalan Diponegoro 700 meter," ucapnya.

Eko menjelaskan, bahwa Kawasan Mangkubumi harus bisa mengimbangi perubahan di sekitarnya, baik dari segi kepadatan penduduk, bangunan, perekonomian, transportasi, dan sebagainya.

"Nanti kita harus menganalisa. Pola ruang kawasan Mangkubumi adalah kawasan cagar budaya dan sumbu kota," ucapnya.

Baca: Penataan Kawasan Pedestrian Kotabaru Bakal Ramah Disabilitas

Eko menjelaskan bahwa sebelum Belanda membangun rel kereta api pada tahun 1800-an, kawasan Mangkubumi dan Malioboro menjadi satu kesatuan.

Saat ini, pihaknya berupaya mengkaji untuk bisa menyelaraskan bagian dari Mangkubumi, Malioboro, hingga Keraton.

"Kalau dijadikan satu ada pusat pelayanan kota, ada moda transportasi, pemerintahan, komersil, dan Keraton. Ini dulunya satu kesatuan dan sekarang agak terpisah. Ini yang nanti bagaimana Mangkubumi jadi pusat pelayanan kota untuk menyangga atau memfasilitasi Malioboro," ucapnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Penulis: kur
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved