Yogyakarta

Penyebab Harga Daging Ayam di Yogyakarta Tembus Rp50 Ribu Per Kilogram

Peternak ayam potong di Kabupaten Bantul lebih didominasi oleh jaringan kemitraan perusahaan, bukan swadaya masyarakat.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM | Susilo Wahid
Ramdan, Pedagang daging ayam di Pasar Bantul, Senin (23/7/2018). Beberapa hari terakhir harga daging ayam melambung. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL- Kepala Bidang Peternakan dan kesehatan hewan, Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Joko Waluyo mengatakan, kelangkaan dan meroketnya harga daging ayam di Bantul diduga karena terjadinya stagnasi pemeliharaan ayam dikalangan peternak.

"Untuk jumlah peternak di Kabupaten Bantul sebenarnya tidak ada masalah. Karena peternak ayam potong di Bantul cukup baik. Namun begitu, untuk masalah harga, kami tidak bisa mengendalikan," ujar Joko, saat launching produk peternakan di Kretek, Senin (23/7/2018)

Joko berpendapat meroketnya harga daging ayam di Bantul justru lebih dikarenanakan mekanisme dagang. Peternak ayam potong di Kabupaten Bantul, menurutnya, lebih didominasi oleh jaringan kemitraan perusahaan, bukan swadaya masyarakat. Sehingga, pihaknya tidak bisa mengendalikan harga.

Ia pun tak menampik selain daging ayam yang meroket, harga daging sapi juga perlahan mulai ikut terkatrol naik. "Harga daging sudah mulai ada peningkatan karena mendekati hari raya kurban," terang dia.

Faktor Cuaca dan Tertundanya DOC (Bibit Ayam)

Pengelola kandang ternak ayam potong di Gowasari, Pajangan, Adnan mengungkapkan, kelangkaan dan meroketnya harga daging ayam di pasaran lebih disebabkan karena faktor cuaca dan pengurangan DOC (bibit ayam) dari perusahaan mitra.

Menurutnya, cuaca pada musim pancaroba saat ini tidak stabil sehingga ada banyak ayam dari peternak yang mudah terserang penyakit dan akhirnya mati sebelum panen.

"Cuaca kalau siang panas, sementara malam dingin banget, sehingga tidak baik bagi kesehatan ayam. Mudah terserang penyakit. Apalagi ini juga masuk musim kemarau, volume air disumur-sumur berkurang dan biasanya ada endapan diatas air, pencemaran dari bakteri E.coli. Saat diminum, ayam terkena penyakit dan banyak yang mati," tutur Adnan, saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Adnan sendiri sudah menjadi pengelola kandang ternak ayam selama 15 tahun. Ia mengaku tahu persis kondisi ayam saat musim kemarau.

Ia menuturkan, musim kemarau seperti saat ini biasanya akan berlangsung dari bulan Juni - September. Selama bulan-bulan itu pula pasokan DOC (bibit ayam) dari pihak kemitraan menjadi tersendat.

"Bulan Juni - September musim kemarau. Kamarin, dapat info dari kemitraan katanya DOC (bibit ayam) sampai Januari ini masih sulit," ungkap dia.

Adnan sendiri mengelola kandang ternak ayam dari bibit yang diperoleh dari perusahaan mitra. Ia hanya bertugas merawat ayam. Dimulai dari persiapan kandang, bibit ayam disebar hingga tumbuh dewasa dan siap panen.

Saat musim kemarau saat ini, cuaca tidak stabil sehingga pembibitan ayam dari kemitraan, menurut Adnan, quotanya akan berkurang.

"Bukan DOC langka, tetapi dari produsen pembibitan DOC dibatasi, quotanya dikurangi," terang dia.

Sulitnya bibit ayam (DOC) dari perusahaan mitra ini akan berdampak pada tertundanya periode dan masa panen ayam. Seminggu pasca panen dan kandang dibersihkan biasanya sudah di drop DOC, kini tertunda dan akhirnya masa berternak dan panen ayam ikut tertunda.

Baca: Warung Makan Terkena Dampak Langkanya Daging Ayam, Omset Langsung Turun Drastis

Pengelola kandang ternak ayam di Gowasari, Adnan, sedang membersihkan kandang ayam, Selasa (17/7/2018)
Pengelola kandang ternak ayam di Gowasari, Adnan, sedang membersihkan kandang ayam, Selasa (17/7/2018) (Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin)

Pedagang Ayam Potong Memilih Tak Berjualan

Pantauan tribunJogja.com di kios daging ayam di pasar Bantul Senin (23/7/2018) terlihat lengang. Beberapa pedagang ayam potong yang biasanya berjalan hingga siang hari tampak tak terlihat. Beberapa lapak dan los pedagang yang biasanya dipakai untuk berjualan daging ayam tampak kosong tak bertuan.

Meja yang digunakan sebagai alas pedagang untuk menjajakan daging ayam terlihat hanya diletakkan di sudut-sudut kios pasar.

"Sabtu lusa masih banyak yang jual, Minggu kemarin juga masih normal, baru mulai hari ini (Senin), banyak pegangan yang tidak jual," kata salah satu pedagang sembako dan daging ayam di Pasar Bantul, Ramdan.

Sekitar 30 pedagang daging ayam di pasar Kolombo, Condongcatur, Sleman memilih untuk tidak berjualan akibat tingginya harga dan tidak adanya stok daging ayam , Senin (23/7/2018)
Sekitar 30 pedagang daging ayam di pasar Kolombo, Condongcatur, Sleman memilih untuk tidak berjualan akibat tingginya harga dan tidak adanya stok daging ayam , Senin (23/7/2018) (IST)

Baca: Harga Daging Ayam di Beringharjo Tembus 50 Ribu per Kilogram

Baca: Pedagang Mogok, Pemkot Magelang Pastikan Stok Daging Ayam Tetap Aman

Menurutnya, hari ini hampir 50 persen lebih pedagang ayam di pasar Bantul tidak membuka dagangannya.

Ia sendiri mengaku masih bisa berjualan karena masih ada stok daging ayam beberapa hari lalu. Semenetara untuk mengambil stok daging ayam saat ini sudah terlanjur langka dan harganya melonjak tajam. Kenaikan harga menurutnya, sudah terjadi sejak ditingkat peternak.

"Saya jual Rp 40 - 45 ribu karena harga dari peternak juga sudah naik. Padahal sabtu saya masih lepas harga Rp 35 ribu, lalu minggu Rp 38 ribu. Beberapa pedagang malah ada yang jual sampai Rp 45-50 ribu," ujar Ramdan. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved