Razia Kosmetik Berbahaya
Gelar Razia Sepuluh Hari, BBPOM Temukan Ribuan Kosmetik Tanpa Izin Edar
Gelar Razia Sepuluh Hari, BBPOM Temukan Ribuan Kosmetik Tanpa Izin Edar
Penulis: rid | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Guna mencegah peredaran produk kosmetik ilegal beredar luas di masyarakat, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Yogyakarta melakukan operasi penertiban pasar dari kosmetika ilegal dan mengandung bahan berbahaya ke puluhan sarana distribusi kosmetik.
Dari operasi tersebut, BBPOM Yogyakarta masih menemukan ratusan item dan ribuan kemasan produk kosmetik yang tidak memiliki izin edar serta mengandung bahan berbahaya.
Kepala BBPOM Yogyakarta, Sandra MP Linthin mengatakan, bahwa operasi tersebut dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.
Di Yogyakarta, operasi dilaksanakan 9-18 Juli 2018 kemarin dengan menggandeng Dinas Kesehatan dan Satpol PP Yogyakarta.
Baca: Harga Daging Ayam Tembus Rp45 Ribu Perkilo, Pedagang Pasar Colombo Pilih Tutup
Dalam kegiatan ini, tim gabungan menyasar 48 sarana distribusi yang menjual kosmetik, antara lain seperti di swalayan, mal dan toko yang khusus menjual produk-produk kosmetik.
"Dari 48 sarana (sasaran operasi), ditemukan 21 sarana yang menjual produk-produk (kosmetik) mengandung bahan berbahaya dan juga tidak memiliki izin edar. Namun yang ditemukan kebanyakan produk kosmetik tanpa izin edar," katanya, Senin (23/7/2018).
Sandra menyebut, dari 21 sarana yang tidak memenuhi kriteria itu pihaknya menemukan 403 item atau 2907 kemasan produk kosmetik tanpa izin edar, dengan nilai ekonomi sekitar Rp89 juta.
Baca: NASA Rilis Gambar Terbaru Titan Saturnus yang Disebut Mirip Bumi
Selain itu, untuk produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya kebanyakan merupakan produk yang sudah masuk public warning dan masih diperjualbelikan di beberapa sarana.
"Untuk produk kosmetik yang mengandung bahan berbahaya ada 29 kemasan terdiri dari 13 item dan nilai ekonominya Rp580 ribu. Sehingga total temuan operasi kemarin ada 416 item dan 2936 kemasan dengan nilai ekonomi Rp89.576.000," ujarnya. (tribunjogja)