Sleman

2 Hal Ini Sebabkan Tingginya Harga Daging dan Telur Ayam di Sleman

Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam beberapa saat terakhir, disinyalir akibat banyaknya permintaan pasca lebaran.

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Alexander Ermando
Peternakan ayam broiler di Segotirto, Berbah, Sleman 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja, Siti Umaiyah

TRIBUNJOGJA.COM – Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam beberapa saat terakhir, disinyalir akibat banyaknya permintaan pasca lebaran.

Dinas Pertanian, Pakan dan Perikanan (DPPP) Sleman berpendapat, kenaikan harga juga disebabkan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Hussen Siswanto, Kabid Peternakan dan Keswan DPPP Sleman pada Kamis (19/7/2018) mengatakan pasokan daging ayam dan telur ayam di Sleman sangatlah mencukupi.

Baca: Faktor Cuaca, Penyebab Harga Ayam Potong di Bantul Melambung Tinggi?

Ia menyebut, hasil dari produksi telur ayam bisa mencapai 16.940 ton pertahun.

Namun meningkatnya permintaan pasca lebaran disinyalir juga berpengaruh terhadap harga telur ayam.

“Untuk di Sleman sebenarnya mencukupi, Dari sisi produksi juga sudah banyak. Nah, saat hari raya kemarin harga ayam kan meningkat. Kemudian masyarakat berganti, mencari alternatif untuk mencukupi kebutuhan protein dengan cara konsumsi telur. Dan kebutuhan telur kan juga menjadi bertambah,” katanya pada Tribunjogja.com.

Hussen juga mengatakan, hampir sebagian besar komponen pakan ayam didapat dengan cara impor.

Sedangkan saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar sedang turun.

Hal tersebut juga sangat berpengaruh bagi peningkatan biaya produksi, baik untuk ayam potong maupun telur ayam.

“Sebagian besar komponen pakan kita dapatkan dengan cara impor. Itu yang juga menjadi penyebab yang mendominasi. Karena pakan yang mahal tersebut, peternak kadang berinisiatif untuk mencari campuran pakan lain. Nah, karena tidak seperti biasa makanannya, juga berpengaruh terhadap waktu pemeliharannya. Menjadi lebih panjang,” katanya.

Sedangkan Heru Saptono selaku Kepala DPPP Sleman menambahkan, jika dikaitkan dengan musim kemarau, peningkatan harga daging ayam dan telur juga ada pengaruhnya.

Dimana tadinya peternak bisa memanen lebih awal, menjadi terlambat.

Selain itu, musim juga sangat berpengaruh bagi perkembangan Day Old Chickens (DOC) atau anakan ayam.

Baca: Harga Daging Ayam Meroket, Masyarakat Siasati Menu Makan Keluarga

 “Kalau musim pengaruhnya terhadap DOC. Yang mana perkembangannya tidak begitu bagus. Kemarin saja DOC yang tadinya hanya dijual Rp 5 ribu perekor, menjadi Rp 10 ribu perekor. Itu kan juga ada pengaruhnya,” katanya.

Heru berharap dari Dinas Perdagangan mengadakan operasi pasar agar harga daging ayam dan telur ayam bisa kembali normal.

Selain itu Heru juga menghimbau agar masyarakat mulai membiasakan diri memakan ikan.

Hal tersebut karena selain protein yang dikandung oleh ikan juga banyak, juga harganya yang relatif stabil.

“Yang paling memprihatinkan bagi warga yang tidak mampu, mereka jadi tidak bisa mengkonsumsi telur karena harganya yang naik. Makanya kita punya ide untuk memberikan mereka babon agar meskipun harga telur naik, mereka masih bisa mengkonsumsi,” katanya. (*)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved