Terungkap, Grup Punk Inilah yang Berhasil Hentikan Laga Final Piala Dunia 2018

Kelompok Punk Rock, Pussy Riot mengaku bertanggung jawab atas insiden masuknya 4 orang ke lapangan saat berlangsungnya laga final Piala Dunia

Terungkap, Grup Punk Inilah yang Berhasil Hentikan Laga Final Piala Dunia 2018
Salah satu anggota kelompok Pussy Riot yang merangsek masuk ke lapangan saat berlangsungnya laga Final Piala Dunia 2018 antara kesebelasan Perancis melawan Kroasia pada Minggu (15/7/2018) 

Dalam aksi tersebut, setidaknya ada beberapa tuntutan yang mereka suarakan.

Beberapa diantaranya yakni tuntutan agar Rusia membebaskan semua tahanan politik, menghentikan penangkapan ilegal saat terjadinya demonstrasi dan mereka juga menyerukan untuk menghentikan kasus-kasus kriminal yang melibatan para demonstran.

Belum jelas jenis hukuman apa yang bakal diterima oleh keempat orang itu.

Tapi yang jelas, tindakan mereka dinilai telah mencoreng Rusia sebagai penyelenggara piala dunia yang relatif bebas masalah. Terlebih saat itu Valdimir Putin juga hadir menyaksikan secara langsung laga Final Piala Dunia 2018.

Siapakah kelompok Pussy Riot ini sebenarnya?

Pussy Riot bukan sekadar grup punk rock, mereka juga merupakan kelompok feminis yang berbasis di Moskow. Kelompok ini didirikan pada Agustus 2011.

Sejak saat itu, mereka sangat aktif mengkritik kebijakan-kebijakan Vladimir Putin. Baik dilakukan melalui aksi demonstrasi maupun dalam berbagai pertunjukan musik provokatif di berbagai tempat.

Sejumlah tema yang kerap kali diangkat dalam lagu-lagu mereka antara lain tentang feminisme, LGBT dan kritikan terhadap Vladimir Putin yang dianggap sebagai diktator.

Pussy Riot pernah berhasil menarik perhatian dunia ketika lima anggota mereka menggelar pertunjukan di Katedral di Mosvi, Moskow pada 21 Februari 2012. Hingga akhirnya dihentikan paksa oleh pihak keamanan.

Sebelum aksi mereka di Final Piala Dunia 2018, Pussy Riot juga menyerukan boikot Olimpiade Musim Dingin Sochi. Mereka bersikeras pada waktu itu bahwa setiap pemimpin dunia yang pergi ke Sochi akan memberikan persetujuan diam-diam dari kebijakan tangan keras Putin. (*)

Penulis: mon
Editor: mon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved