Kota Yogyakarta

Warga Mrican Adukan Kegelisahan ke Pemkot Yogyakarta

Hal tersebut dilakukan pasca insiden percobaan pemerkosaan yang dilakukan seorang warga pendatang kepada anak berusia 11 tahun di Kampung Mrican.

Warga Mrican Adukan Kegelisahan ke Pemkot Yogyakarta
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Warga Mrican melakukan dialog dengan Pemkot dan meminta ketegasan Pemkot untuk mengubah citra Mrican, Rabu (4/7/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Penuturan seorang gadis dengan suara melengking tinggi, menggema di seantero ruang Pandawa, Kompleks Balaikota Yogyakarta, Rabu (4/7/2018).

Ia yang duduk berhadapan dengan warga dan pemerintah kota mencoba meluapkan keluh kesahnya selama ini sebagai warga Mrican, Giwangan, Umbulharjo.

Sefina, nama perempuan tersebut mengaku malu ketika harus menjawab pertanyaan teman-temannya yang menanyakan kediamannya.

Baca: Lima Kawasan Prostitusi di Tanah Air yang Sudah Ada Sejak Zaman Belanda

Perlu diketahui bersama, Kampung Mrican pada rentang tahun 1973-1997 dijadikan sebagai lokalisasi legal. 

Selanjutnya, selepas tahun 1997 lokalisasi tersebut ditutup namun masih menyisakan permasalahan sosial.

Praktik prostitusi masih tetap ramai walaupun dijalankan secara ilegal.

Citra tersebut melekat hingga kini, walaupun Kampung Mrican sudah mendeklarasikan diri sebagai Kampung Takwa.

"Saya malu kalau ditanya teman-teman rumahnya mana. Giwangannya mana. Oh, Mrican yang banyak PSK-nya, banyak orang mabuknya. Saya malu ngaku orang Mrican," ujarnya dengan emosional dan tak kuasa membendung tangisnya.

Ia pun mengaku tidak tenang saat harus pulang larut dan meminta keluarganya untuk sekadar menjemputnya.

Halaman
1234
Penulis: kur
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved