News

Heru Dodot Widodo Kembali Gelar Pameran Tunggal, Menjemput Impian #2

Dodot melanjutkan karya seni tersebut memiliki filosofi yakni cita-cita yang harus diraih dengan susah payah dan biasanya diperoleh saat usia senja

Penulis: Wahyu Setiawan Nugroho | Editor: Ari Nugroho
IST
Heru Dodot Widodo bersama model dan salah satu karya tunggalnya dalam pameran tunggal Menjemput Impian #2 di Omah Kecebong Sleman DIY. 

Laporan Reporter Tribun Jogja Wahyu Setiawan Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM - Seniman yang terkenal dengan karya ikoniknya berupa karya lukis seng Heru 'Dodot' Widodo kembali menggelar pameran tunggal.

Setelah sukses menggelar pameran tunggal bertema menjemput impian yang pertama beberapa waktu lalu di Jogja Gallery, kini seniman yang tinggal di Yogyakarta ini menggelar pameran bertema menjemput impian #2.

Berlokasi di Omah Kecebong Sleman DIY, Dodot sapaan akrabnya menampilkan sebuah karya seni instalasi berupa sebuah sepeda onthel tua dengan di balut alumunium foil yang lengkap dengan gambar orang tua seperti pak tani yg sedang memegang sepeda dengan latar khasnya yakni seng gelombang.

Karya seni instalasi ini Dodot sajikan dengan media berukuran 3,9 meter x 6,5 meter.

Pameran tunggal Heru 'Dodot' Widodo ini dibuka langsung oleh owner omah kecebong Sleman yakni Prayoga.

Baca: Pameran Menjemput Impian, Ungkapan Kasih Seorang Dodot

"Karya ini merepresntasikan sebuah cita cita bahwa namanya hidup adalah suatu oerjuangan yg tidak ada henti hentinya bahkan sampai kita tua pun kita wajib selalu berusaha, no pain no gain," terang Heru Dodot Widodo kepada Tribunjogja.com beberapa waktu lalu.

Tak hanya makna tersebut, Dodot melanjutkan karya seni tersebut memiliki filosofi yakni sebuah cita-cita yang harus diraih dengan susah payah dan biasanya diperoleh pada saat usia senja.

Dan pada usia senja tinggal menikmati hidup meski dengan cara yang sederhana.

"Masih sama dengan konsep yg dulu bahwa seng gelombang adalah hanya sebuah metafora dari sebuah ungakapan kehidupan manusia yg selalu harus bergerak dan gerak, Karena ketika bergerak di situlah ada kehidupan sehingga dengan simbol gelombang yang diartikan sebagai gelombang kehidupan," lanjut Dodot.

"Di situlah ada sistem cerdas bagaimana kita menyikapi hidup dalam seni menghadapi hidup tentunya seniman juga punya cara sendiri menyikapinya," katanya.

Selain itu, pemilihan omah kecebong sebagai lokasi pameran rupanya juga memiliki kaitan erat filosofi dari pameran tunggalnya.

Baca: Mengenal Karya Heru Dodot Widodo, Seng dan Uang Dollar

Omah kecebong ia filosofikan sebagai dari akhir sebuah perjalanan kehidupan manusia yang akan menemukan dimana dirinya merasa nyaman adem ayem tentrem walau dengan hal hal yg sederhana namun bisa lebih mengerti dan menyikapi hidup yang berat.

"Meskipun pada akhirnya semua nanti tergantung sudut pandang yang merasakan," tuturnya.

Analoginya sebuah omah kecebong yakni perjalanan dari sebuah telur katak hingga menjadi katak yang harus menjalani sebuah metafora yg cukup banyak dari sebuah telur, kecebong menjadi katak kecil (precil) dan baru menjadi seekor katak dewasa.

Hal ini Dodot kaitkan dengan perjalanan kehidupan manusia yang taknjauh berbeda dengan proses perjalanan seekor katak tersebut. Yang sama-sama melewati sebuah masa pendewasaan yang harus dilalui dengan sebaik-baiknya untuk menjadi sosok manusia dewasa yang berguna.

"Dengan pengalaman hidup itu kita akan mendapat banyak arti dari pengalaman kehidupan tersebut," pungkasnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved