Singgah di Masjid Bersejarah
Video Masjid Rotowijayan, Penuh dengan Kisah Perjuangan Abdi Dalem
Video Masjid Rotowijayan, Penuh dengan Kisah Perjuangan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta.
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Hari Susmayanti
Melihat ini, Sultan bersabda kala itu, bakal membawa jenazah Pangeran Mangkudiningrat kembali ke Yogya.
Untuk sementara jenazah diawetkan. Ia juga meminta saat ia meninggal untuk dimakamkan berdampingan dengan sang pangeran.
Singkat cerita pada tahun 1824, jenazah sang pangeran bisa dibawa kembali ke Yogya. Jenazah kemudian disemayamkan di Masjid Suronatan.
Jenazah tersebut ditunggu oleh abdi dalem pembawa payung sang pangeran, Ki Driyo Wijoyo. Dua tahun setelahnya, yakni pada tahun 1826 Sri Sultan Hamengku Buwono II wafat.
"Akhirnya jenazah pangeran Mangkudiningrat dan Sri Sultan Hamengku Buwono II dimakamkan di Kotagede," kata Jati.
Jatiningrat menambahkan, ketika pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang Yogya termasuk Keraton, para abdi dalem Suronoto merasa tidak aman sehingga mereka pindah ke Masjid Panepen yang berada di dalam keraton.
Masjid sempat kosong. Hingga akhirnya dihidupkan kembali oleh abdi dalem Rotowijayan saat Belanda sudah meninggalkan Yogya.
Masjid pun hidup kembali. Oleh para abdi dalem yang dipercaya merawat kuda dan kereta ini, nama masjid kemudian diusulkan diganti dengan nama Masjid Rotowijayan.
Melalui Pangeran Prabuningrat dengan restu Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada waktu itu, akhirnya disetujui untuk mengubah nama masjid yang sebelumnya Masjid Suronatan diganti menjadi Masjid Rotowijayan hingga saat ini.
Dikatakan Jatiningrat, hingga saat ini, beberapa renovasi dilakukan di masjid yang memiliki daya tampung jemaah 150 hingga 200 orang ini.
Renovasi besar yang pernah dilakukan adalah mengganti atap yang sudah usang lantaran usia.
Dilihat dari arsitektur bangunan masjid ini, tak lepas dari ciri khas bangunan keraton. Memiliki dinding tebal sekitar 60 hingga 70 sentimeter.
Di ruang utama ada empat tiang penyangga atau juga disebut soko.
Di bagian bawah masing masing tiang ini terdapat hiasan huruf Arab ha, mim dan dal. Menurut keterangan Jatiningrat, hiasan ini bermakna Muhammad.
Mengapa hiasan ini diletakkan di bawah, karena memiliki filosofi bahwa Nabi Muhammad sebagai tiang penyangga agama.