Singgah di Masjid Bersejarah

Video Masjid Pakualaman Girigondo, Batu Hitam Direkatkan Adonan Semen dan Tanah 

Nilai budaya Jawa dan agama Islam menyatu padu menjadi identitas tersendiri tanpa saling menghilangkan akar ajaran masing-masing.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM - Masjid itu berada di bawah kaki bukit.

Dikenal sebagai tempat persemayaman dan menyalatkan jenazah para Adipati.

Itulah Masjid Masjid Pakualaman Girigondo.

Pura Pakualaman memiliki tempat pemakaman tersendiri di Kulonprogo yakni Astana Girigondo yang berada di kawasan perbukitan Desa Kaligintung, Kecamatan Temon.

Tepat di bawah kaki bukit tersebut, terdapat sebuah masjid yang selalu menjadi tempat terakhir persemayaman sementara dan menyalatkan para Adipati kerajaan tersebut sebelum dimakamkan.

Tempat itu tak lain adalah Masjid Pakualaman Girigondo.

Bangunan masjid seluas sekitar 450 meter persegi itu dibangun di atas tanah 5.000 meter persegi.

Perpaduan warna krem, oranye, dan hijau mewarnai permukaan dinding interior dan eksteriornya.

Lambang Pura Pakualaman terpampang besar di atas teras pintu masuk masjid tersebut.

Baca: KBPH Suryodilogo Ziarah ke Makam Leluhur di Girigondo

Sementara di depan masjid itu menjulang tinggi dan kokoh sebuah pohon beringin berukuran cukup besar dengan daun yang lebat dan teduh.

Masjid ini telah ada sejak 1927 atau pada masa pemerintahan Paku Alam V, beberapa puluh tahun setelah kompleks pemakaman dibangun.

Namun, cikal bakal bangunan masjid sudah lebih dulu dibangun yakni berupa bangunan joglo pesanggrahan sejak 1917.

Pesanggrahan itu menjadi tempat transit keluarga dan kerabat Pura Pakualaman yang hendak berziarah.

Oleh PA V, pesanggrahan diubah menjadi masjid dengan melebarkan petak ruangannya tanpa mengubah arsitektur asli yang khas bangunan tradisional Jawa, lengkap dengan empat batang saka guru di tengah-tengah ruangan.

"Zaman dulu, para kerabat Pura datang ke sini dengan kereta kuda atau kereta api. Baru sekitar tahun 1950-an, peziarah mulai datang dengan kendaraan bermotor. Sebelum naik ke areal pemakaman, mereka biasanya beristirahat di pesanggrahan atau menunaikan salat dulu. Dari situlah kemudian muncul ide Paku Alam V untuk mengubah pesanggrahan menjadi masjid," kata Ketua Takmir Masjid sekaligus Kepala Juru Kunci Astana Girigondo, Wasiludin.

Baca: Seminar Sejarah dan Jelajah Budaya Ajarkan Nilai Adiluhung Pakualaman Melalui Sejarah

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved