Bisnis

Pelaku Usaha Yogya Kuatirkan Anjloknya Nilai Rupiah

Kini rupiah kian terpuruk di angka Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat, yang artinya terburuk sejak Desember 2015.

Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Gaya Lufityanti
net
uang rupiah 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Victor Mahrizal

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Depresiasi rupiah dan pelemahan daya beli masyarakat membuat para pelaku usaha di Yogyakarta ketar- ketir.

Apalagi kini rupiah kian terpuruk di angka Rp14 ribu per dolar Amerika Serikat, yang artinya terburuk sejak Desember 2015.

Kekhawatiran ini beralasan, mengingat nilai tukar berdampak terhadap daya beli masyarakat terhadap produk-produk impor asing yang umumnya berupa piranti lunak, barang elektronik dan teknologi informasi lainnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesi (Apkomindo) DIY, Willy Sudjono mengaku masih terus memantau pergerakan rupiah karena sektor usaha merekalah yang paling riskan terkena dampak gejolak nilai tukar, khususnya kenaikan dolar Amerika.

“Pasti. Efek di harga akan ada kenaikan. Kenaikan karena Vendor ambil dari Prinsipal dengan Harga dalam USD. Karena batas semua 13.800 maka akan ada kenaikan sekitar 1,5-2%,” tandas Willy kepada Tribun Jogja, Selasa (24/4/2018).

Dalam kondisi saat ini kata Willy, para pelaku usaha teknologi informasi tidak banyak berbuat banyak, kecuali wait and see sembari berharap menunggu kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

“Kita tidak bisa gegabah menaikkan harga, kasihan konsumen. Jika gejolak hanya sementara kita bisa lakai stok lama dulu menunggu sampai stok habis baru ambil stok baru,” tandas Willy.

Pihaknya juga berharap pemerintah sigap menghadapi gejolak nilai tukar rupiah agar tidak merugikan pengusaha. Selain itu Willy juga menagih janji pemerintah terhadap Paket kebijaakan PPh Final 0,5% dan kalau bisa segera diberikan Juklak serta insentif LKPP untuk Pengusaha lokal.

Di sektor pariwisata Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) DIY, Udhi Sudiyanto mengaku sampai sekarang  untuk tamu asing belum ada pengaruh yang signifikan.

“Walau demikian, kami juga khawatir kalau melemahnya nila tukar rupiah akan mempengaruhi komponen harga tiket pesawat. Kalau tiket pesawat mahal maka mereka akan bepikir ulang untuk melakukan perjalanan,” jelasnya.

Di Yogyakarta, kata Udhi memang hampir semua komponen biaya sudah menggunakan rupiah hanya beberapa saja yang masih mendasarkan dengan harga USD ini.

Tentu apabila USD naik, maka harga komponen tersebut menjadi mahal, alhasil mereka harus membayar lebih dari yang sudah mereka perhitungkan sebelumnya.

“Kami sangat berharap bahwa nilai tukar rupiah akan stabil; karena kami akan mudah untuk menghitung biaya sebuah perjalanan. Akan tetapi kalau naik turun, tentu kami tidak bisa berspekulasi. Kalau angka aman saat ini memang di kisaran 13.000 per USD itu adalah rasio perhitungan kami,” jelasnya.

Menurutnya, yang menjadi masalah adalah bergeraknya nilai dolar disertai dengan naiknya nilai tukar uang asing lainnya.

Hal ini menjadikan biro perjalanan yang paket wisata ke luar negeri termasuk umrah terpengaruh.

Menjadi lebih mahal. Meskipun sampai hari ini belum ada pembatalan.

Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) DIY Teddy Ghani Karim mengatakan terkait anjlok nya kurs rupiah hingga Rp 14.025, pasti akan sangat berdampak terhadap dunia usaha, apalagi dunia usaha yang menggunakan pembayaran mata uang dolar, tidak hanya hal tersebut tetapi juga akan berdampak pada harga jual barang di pasaran semakin melonjak ditambah lagi saat ini mau menjelang puasa.

“Bagaimana dengan masyarakat? Tentunya akan semakin mencekik kebutuhan masyarakat kecil. Oleh karena itu kami memandang bahwa dengan anjloknya kurs rupiah merupakan warrning bagi pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah kongkrit,” jelasnya.

Menurut Teddy, kalau hal tersebut dibiarkan maka perekonomian akan semakin terancam, dan ekonomi bisa mengalami krisis.

Krisis ekonomi yang pernah terjadi pada tahun 1988 mestinya menjadi pengalaman berhaga buat pemerintah untuk segera mengantisipasi terjadinya krisis seperti tahun 1998.(tribunjogja.com)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved