DIY
Sultan Ceritakan Sejarah Berdirinya Kota di Jawa
Sejarah pertumbuhan fisik kota di Jawa umumnya diawali dari Keraton sebagai pusat pemerintahan yang mengekspresikan spirit dan karakter
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang hadir dalam Pembukaan Rapat Kerja (Raker) Komisariat Wilayah (Komwil) III Apeksi mengatakan bahwa Raker yang dilanjutkan dengan jelajah Tamansari dan Kotagede, bukanlah wisata biasa.
"Tapi juga merawat kenangan sejarah bagaimana para pendahulu wilayah Jawa ini dulu membangun kotanya," bebernya, Kamis (19/4/2018).
Tamansari misalkan, selain tempat rekreasi keluarga kerajaan juga berfungsi sebagai saluran irigasi pertanian juga benteng pertahanan kota.
"Gaya arsitektur kuno campuran Portugis, Hindu, Jawa, dan Cina membawa nilai tambah," ungkapnya.
Sultan menambahkan, saat itu Sri Sultan Hamengku Buwono I memerintahkan arsitek Portugis dan Bupati Madiun untuk membangun istana air yang dikelilingi danau buatan dengan wewangian bunga bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan sekitarnya.
"Pesona air berpadu dengan arsitek campuran," urainya.
Baca: Jelang Pemilu 2019, Sultan Berharap Mahasiswa Rantau di DIY Difasilitasi KPU
Sementara itu, lanjutnya, Kotagede merupakan pesona kota tua yang ada di Yogyakarta.
Di sana terdapat bangunan bersejarah dan kerajinan perak yang memukau.
"Lebih dari 170 bangunan kuno yang berarsitetur unik yang dibangun dalam rentang tahun ratusan, yakni tahun 1700 sampai 1930-an yang memiliki nilai sejarah, aspek pemerintahan kota, tata ruang, dan mahzab arsitekturnya," ucapnya.
Orang nomor satu di DIY tersebut menambahkan, yang hingga kini bertahan adalah Masjid Kotagede, rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas, kompleks makam pendiri kerajaan, reruntuhan benteng hingga perkampungan yang tetap menggunakan unsur tata kota masa lampau.
"Perhiasan perak dengan etnik Kotagede juga menarik," tambahnya.
Baca: Para Puteri Sri Sultan Luwes Membuat Apem di Prosesi Ngapem
Sejarah pertumbuhan fisik kota di Jawa umumnya diawali dari Keraton sebagai pusat pemerintahan yang mengekspresikan spirit dan karakter yang religius, filsafati, dan kultural.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/gubernur-diy-sri-sultan-hamengku-buwono-x-ketika-berdialog-bersama-ketua-apeksi_20180419_174519.jpg)