Napak Tilas Rute Gerilya Jenderal Sudirman, Taruna TNI Diharap Bisa Hayati Perjuangan Pahlawan

Mereka pun diharapkan bisa benar-benar menghayati perjuangan para pahlawan bangsa, khususnya Jenderal Sudirman.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Ratusan taruna-taruni mengusung tandu melakukan Napak Tilas Rute Gerilya Jenderal Sudirman, Rabu (21/03/2018) 

Laporan Reporter Tribunjogja.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ratusan taruna-taruni melakukan jalan kaki napak tilas rute gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman, Rabu (21/3/2018).

Mereka pun diharapkan bisa benar-benar menghayati perjuangan para pahlawan bangsa, khususnya Jenderal Sudirman.

Hal itu ditegaskan Wakil Komandan Jenderal Akademi TNI, Mayjend Dody Usodo Hargo, sesaat sebelum melepas iringan langkah kaki ratusan tentara.

Menurutnya, panglima besar Jenderal Sudirman bersama pasukannya berjuang melawan Belanda dengan cara gerilya tanpa mengenal lelah.

Sudirman tak kenal lelah melintasi jalan setapak selama berbulan-bulan dari Kabupaten Bantul hingga Jawa Timur, dalam tekanan militer penjajah.

"Tanggal 20 desember 1948 panglima Jenderal Sudirman bergerilya dari sini (Bantul) sampai Pacitan, Trenggalek, Jawa Timur. Kembali lagi ke Yogya, pada tanggal 1 April 1949 karena dipanggil Bung Karno. Beliau bergerilya 6 sampai dengan 7 bulan, di bawah tekanan pasukan penjajah," terang Mayjen Dody, penuh semangat, Rabu (21/03/2018).

Padahal, saat melakukan gerilya, Jenderal Sudirman dalam keadaan sakit paru-paru sebelah.

Namun, kondisi itu tak menyurutkan sedikitpun langkahnya untuk tetap melakukan perlawanan kepada Belanda.

Mayjend Dody kemudian mengutip satu pernyataan tegas yang dikatakan Jenderal Sudirman,"Dengan dan tanpa pemerintah kami akan tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda. Yang sakit itu Sudirman, panglima tidak sakit, panglima tetap bisa memimpin perjuangan. Itu perkataan Jenderal kala itu," tegas dia.

Sebelumnya, ratusan Tentara dari taruna-taruni ini akan berjalan kaki menyusuri rute perjalanan sepanjang puluhan kilometer sebagai pengingat perjuangan ketika sang panglima bergerilya melawan Belanda.

Dengan mengusung tandu sebagai duplikat dari tandu sang jenderal. Ratusan Tentara ini berbaris dua saf memanjang.

Ketika bendera diayunkan sebagai tanda dimulainya perjalanan, derap langkah sepatu booth tentara langsung menghentak keras di jalan berkerikil dan berbatu. Wajah-wajah mereka terlihat semangat. Riuh rendah lagu perjuangan menggema dengan lantang.

Ratusan tentara ini bersergam lengkap. Di awali baris pertama mengusung tandu, dibelakangnya menyusul dua saf berbaris memanjang.

Berderap cepat. Laras panjang digenggam erat. Langkah kaki kokoh menapak dan sorot mata tajam menatap kedepan.

"Hidup Sudirman. Hidup Sudirman. Sudirman pahlawan kami," terdengar nyanyian lantang dari barisan taruna saling bersahut-sahutan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved