Apakah Terpidana Mati Sempat Merasakan Sakit Sesaat Setelah Dipancung? Ini Jawabannya

Jika kepala sudah terputus karena dipancung, apakah seseorang masih bisa melihat atau atau merasakan sakit? Berama lama proses kematiannya?

Editor: Mona Kriesdinar
Cakrawala News
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.com - Eksekusi mati dengan cara dipancung merupakan salah satu metode eksekusi yang banyak dipilih.

Terutama karena pertimbangan bahwa metode inilah yang paling cepat membunuh seseorang atau dalam bahasa lainnya, hukuman ini dianggap 'lebih manusiawi' lantaran terpidana mati tak akan merasa kesakitan.

Baca: Kisah Pilu TKI Zaini Misrin yang Dituduh Bunuh Majikan, Dipaksa Ngaku dan Berakhir Dipancung

Itu pula yang mendasari lahirnya sebuah alat eksekusi mati yang disebut Guillotine yang diciptakan oleh Joseph-Ignace
Guillotine, bersama dengan insinyur Jerman Tobias Schmidt pada abad 17.

Guillotine digunakan semasa revolusi perancis, menggantikan alat eksekusi mati sebelumnya yang dianggap sangat tidak manusia yakni roda penghancur. Karena roda penghancur lebih mirip sebagai alat penyiksaan daripada alat untuk eksekusi
mati.

Pada tanggal 10 Oktober 1789, dokter Joseph-Ignace Guillotin mengusulkan kepada Majelis Nasional bahwa hukuman mati harus dilaksanakan dengan metode pemenggalan kepala. Terdakwa harus langsung mati, tanpa merasakan sakit terlebih dahulu.

Dari situlah muncul alat penggal Guillotine.

Baca: Warga Ingin Hukum Pancung Seekor Buaya Ompong yang Sering Bikin Resah

Namun pertanyaannya, seberapa cepat kematian itu datang? Jika kepala sudah terputus, apakah seseorang masih bisa melihat atau atau merasakan sakit?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, banyak ahli yang merujuk pada sebuah catatan sejarah yang paling terkenal yakni ketika pelaksanaan eksekusi mati terhadap wanita bernama Charllotte Corday pada 17 Juli 1793.

Dalam berbagai sumber disebutkan bahwa setelah pisau itu jatuh dan memenggal kepala Corday, salah satu asisten algojo mengangkatnya dan menepuk pipinya. Menurut saksi mata, mata Corday berpaling untuk melihat pria itu dan wajahnya berubah
menjadi ekspresi amarah.

Setelah insiden ini, orang-orang yang dieksekusi oleh guillotine selama Revolusi dilaporkan pernah mengedipkan matanya yang terjadi hingga beberapa detik.

Kisah lain yang sering diceritakan tentang apa yang terjadi setelah kepala terpenggal berasal dari tahun 1905. Seorang Dokter Prancis Dr. Gabriel Beaurieux menyaksikan pemenggalan kepala seorang pria bernama Languille.

Dia menulis bahwa segera sesudahnya, "kelopak mata dan bibir terpidana terlihat bergerak, bekerja dalam kontraksi berirama
yang tidak teratur selama sekitar lima atau enam detik."

Kemudian Dr Beaurieux memanggil nama terpidana mati hingga tiga kali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved