Jejak Kedaton Mataram Masa Raja Balitung

Kedaton Itu Ada di Antara Poros Candi Sambisari-Candi Kedulan?

Bagian prasasti Tlu Ron menginformasikan petunjuk penting tentang letak satu di antara simpul kedaton Mataram Kuno yang dicari-cari orang.

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumargo
Candi Sambisari 

"Saya akhir tahun 70an selama enam bulan ngubek-ubek Kedu bersama Pak Timbul (Prof Timbul Haryono), namun nihil. Minim petunjuk. Temuan artefak ada, tapi ya masih gelap di mana letak pusat keraton Mataram dimaksud," kata Djoko Dwiyanto beberapa waktu lalu di UGM.

Kesulitan terbesar yang dihadapi para ahli adalah tiadanya bukti fisik keberadaan lokasi yang memenuhi syarat identifikasi pusat kerajaan.

"Harusnya ini bukan alasan. Harus dicari terus menerus," lanjut epigraf yang pensiun sebagai PNS akhir bulan ini. 

Pendekatan menarik kini dilakukan Baskoro Daru Tjahjono dari Balai Arkeologi Yogyakarta.

Ia menggunakan teori kosmogoni untuk menyelami falsafah pembangunan masa klasik, termasuk bagaimana bagaimana penguasa membentuk dan memperkuat pusat kekuasaannya. 

Dari konsep itu dikerucutkan ke petunjuk yang diyakini membawa pencarian ke lokasi pusat keraton Mataram Kuno.

Baskoro telah membuat target pencarian di poros Candi Sambisari dan Candi Kedulan

Mengutip pendapat von Heine Geldern, Baskoro mengatakan, kerajaan-kerajaan kuno Asia Tenggara memiliki landasan kosmogonis yang didasari keserasian antara mikrokosmos dengan makrokosmos. 

Dalam pandangan Hindu, alam semesta terdiri dari benua pusat berbentuk lingkaran yang disebut Jambudwipa. Benua pusat itu dilingkari tujuh lautan dan tujuh daratan dan dibatasi oleh pegunungan yang tinggi. 

"Di tengah Jambudwipa berdiri Gunung Meru sebagai pusat alam semesta. Di puncak gunung terdapat kota dewa-dewa dikelilingi tempat tinggal delapan dewa penjaga mata angin (Lokapala).

Oleh karena itu pendirian kerajaan-kerajaan kuna Asia Tenggara termasuk di Indonesia haruslah mencerminkan konsepsi tersebut," katanya. 

Meski tidak ada temuan naskah tentang teori ketatanegaraan tersebut, keterangan dalam prasasti Canggal, menyebutkan Raja Sanjaya sebagai Raghu telah menaklukkan raja-raja sekelilingnya.

Kerajaannya digambarkan sebagai dunia yang berikatpinggangkan samudera dan berdada gunung-gunung. Prasasti Canggal ditemukan di situs Gunung Wukir yang ada candi Siwanya. 

Di lereng barat Merapi dulu hingga sekarang dialiri banyak sungai yang berhulu di gunung berapi aktif tersebut.

Juga ada sejumlah gunung kecil dan puncak-puncak perbukitan Menoreh di sisi barat memanjang ke selatan. 

Halaman
1234
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved