Wow, Kulonprogo Kini Miliki Taman Budaya
Pembangunan Taman Budaya Kulonprogo sendiri sudah menelan anggaran hingga Rp44,8 miliar dari Dana Keistimewaan.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM - Tahap pertama pembangunan Taman Budaya Kulonprogo (TBK) di Pengasih telah rampung.
Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X melakukan soft launching gedung yang disokong Dana Keistimewaan senilai Rp 44,8 miliar tersebut, Senin (12/3/2018).
Sultan mengatakan gedung yang megah dan mahal tersebut harus bisa digunakan secara maksimal untuk berbagai kegiatan pengembangan seni dan budaya serta tidak boleh terlantar.
Di dalamnya mencakup konsekuensi berupa beban perawatan gedung yang cukup tinggi.
Pada dua tahun awal ini, beban perawatan gedung itu masih bisa saja disubsidi melalui anggaran dari pemerintah namun selanjutnya harus dipenuhi secara mandiri oleh pengelolanya.
Bersamaan itu, perencanaan untuk anggaran perawatan juga harus dirancang sedemikian rupa.
Termasuk, mencari sumber pendapatan melalui event kesenian dan kebudayaan yang digelar.
"Jangan apa-apa (event) digratiskan, bisa diberi tiket untuk mendukung maintenance yang biayanya tidak sedikit. Karena nanti mau dibentuk jadi UPT (Unit Pengelola Teknis) tersendiri, jadi, bagaimana taman budaya ini harus bisa menghidupi diri sendiri," kata Sultan.
Pembangunan Taman Budaya Kulonprogo sendiri sudah menelan anggaran hingga Rp44,8 miliar dari Dana Keistimewaan.
Proyek ini dimulai sejak 2014 dengan menghabiskan Rp3,37 miliar.
Sedangkan pada 2015, menghabiskan dana Rp9,9 miliar dan dilanjutkan di 2016 senilai Rp 4,3 miliar.
Terakhir, pada 2017, anggaran yang terserap mencapai nilai Rp26,3 miliar.
Meski sudah rampung separuhnya, Taman Budaya Kulonprogo baru akan beroperasional pada 2019 mendatang.
Dengan adanya Taman Budaya Kulonprogo, Sultan berharap masyarakat setempat punya kesadaran baru dan kemauan untuk lebih nguri-uri budaya dan kearifan lokal.
Hal ini menurutnya menjadi kekuatan baru dalam konteks global.
Yakni, bagaimana nilai-nilai lokalitas bisa dihargai di tingkat global.
"Misalnya, senam angguk bisa menasional. Harapan saya, taman budaya ini bisa dimanfaatkan maksimal," tambah Sultan.
Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo mengaku pihaknya sudah menyiapkan beberapa konsep pemanfaatan kawasan budaya untuk event-event periodik.
Bangunan yang ada juga akan disempurnakan sehingga mendukung operasionalnya secara optimal.
Program pembangunan sendiri sudah dilakukan sejak 2014 lalu dan kini sudah terdapat bangunan auditorium serta pendopo.
Adapun pada 2018 ini pembangunan akan dilanjutkan untuk panggung terbuka (ampitheater) dan ruang pameran.
"Sekarang kami berpikir keras apa saja yang bisa dikembangkan untuk kemajuan budaya. Memelihara taman budaya tentu tidak murah dan kami berharap ini bisa produktif sehingga bisa menghidupi," kata dia.
Di sisi lain, pihaknya juga akan mengembangkan beberapa kawasan budaya.
Beberapa titik potensi yang masuk dalam masterplan pengembangan kawasan budaya tersebut yakni objek wisata Gua Kiskendo, kawasan Sendangsono, Puncak Suroloyo, dan Geoheritage bekas penambangan di Kliripan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo, Untung Waluyo mengaku siap menggelar berbagai atraksi budaya dan kesenian di taman budaya tersebut.
Gedung ini tidak hanya untuk kepentingan budaya dan seni namun masyarakat umum bisa memanfaatkannya dengan sistem sewa yang tarifnya akan diregulasi kemudian. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/taman-budaya-kulonprogo_20180312_180139.jpg)