Menguak Isi Prasasti Tlu Ron

Wow! Inilah Pancuran Tempat Raja Balitung Mandi di Timur Candi Kedulan

Pembacaan lengkap isi prasasti Tlu Ron menguak banyak hal kehidupan Mataram Kuno

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumargo
Inilah Pancuran Tempat Raja Balitung Mandi di Timur Candi Kedulan 

Karena itu keberadaan sungai di sekitar Kedulan jadi prioritas pengamatan dengan perhatian pada aspek lokasi, bentuk alur (stream pattern), hubungan anarsungai (drainage pattern), dan ciri kronologi relatif sungai lama atau baru.

Dari aspek-aspek ini kemudian dilacak dan dikaji relasinya dengan informasi tentang pancuran dan tempat mandi sang raja. Hasilnya, di sebelah timur Candi Kedulan, ditemukan dua belik (mata air) di tepi Kali Bening. 

Sungai ini membelah dua dusun. Dusun Segaran di barat dan Dusun Jongkrangan di stimur sungai. "Mata air itu permanen. Jaraknya sekitar 400-550 meter sebelah timur Candi Kedulan," beber Tjahjono.

Kedua belik itu dinamai Belik (Sendang) Segaran di barat sungai dan masuk wilayah Dusun Segaran. Tak jauh di sebelah bawah atau selatan belik ini, ada Belik Jongkangan yang masuk wilayah Dusun Jongkangan.

Jongkangan ini masuk wilayah Desa Tamanmartani. Sedangkan Segaran ada di Tirtomartani. Di kedua belik yang mata airnya permanen ini terdapat batu-batu andesit yang sudah diolah seperti batuan candi.

Ada yang kotak persegi, bulat, batu bertakik, ada yang disusun rapi di sekeliling belik, maupun berserakan di tepi sungai. "Mungkin banyak juga yang terkubur atau terpendam di sini," kata Jumiyanto (53), warga Dusun Segaran yang mengantar Tribun ke belik, Jumat (9/3/2018).

Dari dua belik ini, kandidat utama mengerucut ke Belik Jongkangan sebagai lokasi pancuran tempat mandinya sang Raja Dyah Balitung. Rerimbunan hutan di sekitar belik pada masa kuno juga dimungkinkan jadi lokasi raja "memulut" burung perkutut.

"Blok batu kuno lebih banyak di lokasi ini, dan ukurannya besar-besar," kata Tjahjono Prasodjo.

"Keletakan lokasi ini juga persis di sebelah timur candi (Parhyangan Haji) seperti disebut di prasasti Tlu Ron," lanjutnya. 

Sekarang timbul pertanyaan, apa tidak mungkin situs pancuran di timur Kedulan itu sudah lenyap atau terkubur material lahar?

Bukankah Candi Kedulan saat ditemukan terkubur pasir batu sedalam 6-7 meter? Tjahjono Prasodjo dan Susetyo Edy Yuwono meyakini temuan dan kesimpulan mereka itu.

"Dasar sungai (Kali Bening) yang ada sisa-sisa blok batu candi, sejajar atau sedikit di bawah level kaki Candi Kedulan," kata kandidat doktor yang menyusun disertasi tentang DAS Brantas era Majapahit ini.

Pengamatan Tribunjogja.com di lokasi belik, dasar aliran sungai memang jauh di bawah permukaan tanah yang padat perumahan penduduk. Dari permukaan dataran Dusun Segaran, dasar Kali Bening lebih kurang 7 meter.

Dasar sungai itu di sebagian lokasi terlihat berupa blok-blok batuan beku yang solid, atau batuan sedimen yang sangat padat dan keras. Lebar sungai pada masa lalu jauh lebih lebar ketimbang sekarang. 

Jumiyanto dan sejumlah warga Dusun Segaran tak menyangka jika salah satu belik di dekat perkampungan mereka memiliki nilai sejarah tinggi. Belik Segaran maupun Belik Jongkangan menurut mereka sudah ada sejak mereka dilahirkan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved