Misteri Prasasti ke-3 Candi Kedulan Akhirnya Terkuak

Salah satu informasi penting yang disingkap, nama lokasi atau dusun tempat berdirinya Candi Kedulan dulu kala bernama Tlu Ron

Misteri Prasasti ke-3 Candi Kedulan Akhirnya Terkuak
TRIBUNJOGJA.com | Setya Krisna Sumargo
Prasasti ke-3 Candi Kedulan ditemukan September 2018 di antara candi perwara utara dan perwara tengah. Salah satu informasi penting yang disingkap, nama lokasi atau dusun tempat berdirinya Candi Kedulan dulu kala bernama Tlu Ron. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Misteri prasasti ke-3 Candi Kedulan di Wedomartani, Sleman, terkuak, Selasa (6/3/2018) sore ini di kampus UGM.

Epigraf muda Departemen Arkeologi FIB UGM, Tjahjono Prasodjo MA memaparkan hasil kajiannya pada seminar epigrafi di University Club UGM, sore ini.

Prasasti ke-3 Candi Kedulan ditemukan September 2018 di antara candi perwara utara dan perwara tengah.

Salah satu informasi penting yang disingkap, nama lokasi atau dusun tempat berdirinya Candi Kedulan dulu kala bernama Tlu Ron.

Karena itu prasasti ini diberi nama Prasasti Tlu Ron (Tiga Daun).

Dusun Kedulan yang sekarang ini pada abad 8/9 bernama Dusun Tlu Ron.

Tjahjono Prasodjo juga menemukan bukti-bukti kuat lokasi bendung, saluran air, dan pancuran mandi, yang disebut dalam prasasti buatan Raja Dyah Balitung tersebut.

Menurut Tjahjono, bendung atau dawuhan itu dulu berlokasi di Dusun Ngalihan yang sekarang. Sekitar 4 kilometer barat laut Kedulan.

Wluran (saluran) yang dimaksud di prasasti berupa saluran tersier dari bendung yang mengarah ke Dusun Ngaliyan hingga Tlu Ron (Kedulan).

Kesimpulan lokasi bendung di Ngaliyan berdasar analisa citra satelit, aspek hidrologis, dan analisis toponimi Kalikalihan yang ditulis dalam prasasti.

Kalikalihan sama dengan Ngaliyan yang sekarang. Sedangkan pancuran air tempat raja Dyah Balitung pernah mandi ada di belik Dusun Jongkrangan di timur Candi Kedulan.

Sebelum penemuan 2015, dua prasasti ditemukan di situs Kedulan bertahun lalu saat candi itu ditemukan terkubur pasir sekitar 7 meter.

Kedua temuan itu dinamai prasasti Sumundul dan Panangaran, bertarikh 869 Masehi. Dibuat masa Raja Dyah Lokapala. Kini keduanya disimpan di ruang koleksi BPCB DIY di Bogem, Kalasan.

Sedangkan prasasti Tlu Ron menurut Tjahjono berdasar pembacaan candra sengkala sanskritnya bertarikh 822 Saka atau 900 Masehi.(Tribunjogja.com/xna)

Penulis: xna
Editor: mon
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved