Kisah Difabel Pengemudi Ojek Online: Pesanan Kerap Dibatalkan Ketika Bertemu Konsumen

Kekurangan fisik tidak mengurangi semangat Andika Arisman (27) untuk berjuang demi hidup.

Editor: Ari Nugroho
KOMPAS.com/ HENDRA CIPTO
Andika Arisman kini menjadi pengendara ojek oline di Makassar 

"Saya tidak mau membebani orang, makanya saya jarang pulang. Biar pun saya sudah diangkat sebagai keluarga di rumah itu. Orangtua angkatku yang kedua itu masih ada, masih biasa saya berkunjung ke rumahnya. Sampai saya juga sudah menikah, saya sebulan sekali menyempatkan mengunjunginya," katanya.

Menginjak usia ke-25, Andika pun akhirnya menikah dengan seorang gadis pujaan hatinya, Mifta (23), warga Kota Bima, Pulau Sumbawa bagian timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tengah kuliah di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Hingga kini, Andika hidup bersama dengan istrinya di kamar kos di Jalan Sultan Alauddin 2, Lorong Mamua 5 B, Makassar.

Di tempat mangkalnya, pangkalan Komunitas GoJek Ratulangi Makassar, Andika bersama teman-temannya menunggu orderan ojek secara online.

Tingkatkan derajat hidup

Setiap hari, Andika hanya mendapat pesanan 2 hingga 3 penumpang.

Dengan orderan itu, Andika biasa hanya mengantongi uang Rp 20.000 hingga Rp 40.000 untuk biaya hidup sehari-hari.

Tampaknya Andika bakal sulit mendapat bonus karena tidak bisa memenuhi target 12 pesanan dari perusahaan aplikasi.

Tak jarang, ketika mendapat orderan, calon penumpang membatalkannya setelah melihat kondisi fisik Andika yang cacat.

"Paling sehari-hari hanya 2 sampai 3 orderan. Ya, kalau segitu, biasanya Rp 20.000 sampai Rp 30.000 per hari. Ya cukup tidak cukup, ya dicukupkan untuk biaya makan sehari-hari. Biasa juga, sehari tidak dapat orderan karena kebanyakan penumpang men-cancel orderan. Ya, mau diapa, saya syukuri saja, Pak," kata Andika saat ditemui di pangkalannya, Sabtu (24/2/2018) sore.

Dengan menjadi tukang ojek online, Andika kini bisa lebih berbangga hati karena bisa melepas pekerjaannya sebaga pengamen yang digelutinya selama puluhan tahun.

Dia pun pernah mengemis saat masih kecil namun tidak bertahan lama.

"Saya pernah juga mengemis waktu kecil, pada usia 6 tahun. Tapi saya tidak bisa bertahan lama. Saya pun mengamen dengan menyanyi saja. Dari hasil menyanyi-nyanyi, saya coba sisipkan uang untuk membeli gitar. Saya terus belajar main gitar, tapi tidak bisa karena tangan kananku ini kaku tidak bisa digerakkan," tuturnya.

Dengan adanya ojek online, Andika pun berpikir untuk beralih profesi dan membeli sebuah motor matik dari tabungannya puluhan tahun mengamen.

Dengan motor yang beroda dua, tentunya Andika tidak dapat mengendarainya.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved