Administrasi Sekolah Adiwiyata Dinilai Berat

Sebenarnya untuk mewujudkan sekolah menjadi Adiwiyata tidaklah sulit. Namun persyaratan administrasilah yang dinilai memberatkan.

Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Kurniatul Hidayah
Suasana pengarahan program Sekolah Adiwiyata di Ruang Bima Balai Kota Yogyakarta, Jumat (23/2/2018). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Kurniatul Hidayah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala SMPN 6 Yogyakarta, Retna Wuriyaningsih menjelaskan bahwa sekolahnya telah melaksanakan Adiwiyata sejak lama.

Bahkan sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan Sekolah Adiwiyata.

"Tahun 2015-2016 sudah menjadi Juara 1 di Kota Yogyakarta. Lalu pada 2016 berada di urutan nomor 5 untuk tingkat provinsi. Tahun 2017 kami sibuk mempersiapkan UNBK jadi tidak sempat mengurus persyaratan Sekolah Adiwiyata. Kemudian pada tahun ini, rencananya kami akan ikut lagi," bebernya di sela-sela acara Pengarahan Sekolah Adiwiyata se-Kota Yogyakarta, di Ruang Bima Kompleks Balai Kota Yogyakarta, Jumat (23/2/2018).

Ia mengaku, sebenarnya untuk mewujudkan sekolah menjadi Adiwiyata tidaklah sulit.

Namun bukan hanya dari lingkungan tapi persyaratan administrasilah yang dinilai memberatkan.

"Dokumennya itu ada banyak yang diajukan," tambahnya.

Baca: Sekolah Adiwiyata Harus Punya Kurikulum yang Terintegrasi

Tidak hanya untuk mendapatkan juara, lebih jauh Retna menyebut bahwa status Sekolah Adiwiyata adalah untuk membiasakan warga sekolah menjaga dan merawat lingkungan sekitar.

"Kalau dulu, sebelum berlaku sekolah full day, tiap jumat kami adakan bersih-bersih lingkungan selama satu jam. Kalau sekarang lima hari sekolah, waktunya padat sekali. Bersih-bersihnya pada acara tertentu saja," terangnya.

Selain itu juga siswa diminta bisa bertanggung jawab menjaga kebersihan kelas. Ketika guru masuk kelas namun kondisi ruangan belum bersih, maka kegiatan belajar mengajar belum akan dimulai.

"Harus bersih dulu," ujarnya.

Sementara itu terkait kurikulum Adiwiyata, Retna menjelaskan bahwa itu sudah terintegrasi ke dalam tiap-tiap mata pelajaran.

"Misalkan Bahasa Indonesia, maka masuknya membuat karangan, laporan, dan sebagainya. Sudah include ke mata pelajaran," tambahnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved