60 Persen Lulusan PMSD Diterima Kerja
Selain kurikulum dalam pendidikan mekatronika, PMSD juga membekali para mahasiswanya dengan program-program pembentukan karakter unggul.
Penulis: Santo Ari | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Direktur Mekatronika Politeknik Sanata Dharma (PMSD) Eko Aris Budi Cahyono menekankan pendidikan vokasi akan menghasilkan tenaga ahli yang siap untuk bekerja.
Dengan menempuh pendidikan vokasi, maka dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri.
Terlebih Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi yang kuat dengan industri yang berkembang sangat pesat.
Eko Aris mengatakan, dengan memilih jalur vokasi, maka selangkah lebih dekat untuk meraih pekerjaan yang diinginkan.
PMSD sendiri selama ini telah meluluskan mahasiswanya yang ahli di bidang mekatronika melalui tiga prodi.
Yakni D3 Mekatronika, Instrumentasi Medis dan Desain Produk Mekatronika.
"Lulusan PMSD semuanya terserap dengan waktu tunggu yang singkat, kurang dari tiga bulan. Bahkan 60% lulusan PMSD sudah diterima kerja sebelum diwisuda," ujarnya.
Ia menambahkan, lulusannya banyak yang memilih bekerja di perusahaan multinasional.
Menurutnya perusahaan multinasional membutuhkan tenaga kerja yang mampu bekerja dan punya karakter unggul, tidak hanya melihat dari selembar ijazah atau gelar yang disandang.
"Bahkan lulusan PMSD sudah banyak yang menduduki level yang tinggi tanpa harus studi formal ke jenjang pendidikan lebih tinggi," tuturnya.
Eko menjelaskan, untuk menghasilkan lulusan yang unggul dan berkarakter dalam bidang Teknologi Rekayasa Mekatronika, PMSD juga menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.
Hal itu dilakukan bertujuan untuk pengembangan SDM, melengkapi peralatan praktik, menyelenggarakan riset kerjasama, tempat pelatihan mekatronika dan pemberian Beasiswa.
Selain kurikulum dalam pendidikan mekatronika, PMSD juga membekali para mahasiswanya dengan program-program pembentukan karakter unggul.
Melalui program Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PPKM) yang dimiliki PMSD, mahasiswa didampingi untuk mengenal dirinya, mempunyai mimpi dan tujuan, menjadi orang yang proactive, pantang menyerah serta berpikiran terbuka untuk dapat bekerjasama dengan baik.
Selain itu juga diterapkan Sistem Poin Soft Skill sebagai sarat kelulusan yang diambil dari keaktifan mahasiswa dalam kegiatan kemahasiswaan. Misalnya melalui UKM, mengikuti lomba-lomba, seminar, terlibat dalam kepanitiaan kegiatan dan kemampuan dalam berbahasa internasional (Inggris).
"Jangan sampai, ketika MEA, Indonesia kekurangan tenaga ahli, dan justru tenaga ahli dari luar masuk ke Indonesia. Maka dari itu pendidikan vokasi hadir untuk menjawab tantangan itu," tambahnya. (*)