Stok di DIY Cukup, Beras Impor Hanya Digunakan Saat Emergency Saja

Untuk kebutuhan empat, hingga lima bulan ke depan. Jika nantinya mendapat alokasi beras impor dari pemerintah pusat.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: oda
tribunjogja/azka ramadhan
Ketua III Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY, Budi Hanoto. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Stok beras di wilayah DIY dipastikan masih mencukupi, untuk kebutuhan empat, hingga lima bulan ke depan. Jika nantinya mendapat alokasi beras impor dari pemerintah pusat, hanya akan digunakan saat situasi emergency saja.

Hal tersebut disampaikan Ketua III Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY, Budi Hanoto, usai mengikuti high level meeting TPID DIY, yang berlangsung di Kantor Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Komplek Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Yogyakarta, Rabu (17/1).

"Impor itu kan kebijakan pemerintah pusat. Dari hitung-hitungan kalkulasi, tidak ada keinginan dan provinsi pun tidak bisa lakukan impor. Kalau memang ada alokasi untuk DIY, penggunaannya akan sangat-sangat selektif, dalam situasi emergency saja," tandas Budi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY itu berujar, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, hanya akan digunakan beras hasil petani lokal saja.

Terlebih, ia memahami, dalam beberapa bulan mendatang, akan ada panen raya di sejumlah daerah di DIY.

"Ya, kita tahu, tahun ini masih ada panen raya. Beras impor digunakan kalau memang kondisinya butuh banget. Tapi, hitung-hitungannya tadi kan stok masih cukup. Itupun kalau dialokasikan. Kalau tidak, ya kita cukup pakai (beras) lokal saja. Itu cukup," ujarnya.

Budi pun memastikan, jika nantinya DIY mendapat alokasi beras impor dari pemerintah pusat, itu tidak akan mengganggu eksistensi beras lokal. Sebab, penggunannya bisa diatur sedemikian rupa, dari sisi besaran, maupun waktu pengeluarannya.

"Pastilah diatur, penggunaannya sangat selektif, saat kondisi benar-benar emergency. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, DIY hanya gunakan beras lokal saja," tandasnya.

Dalam high level meeting tersebut, tutur Budi, turut dibahas pula evaluasi terkait kenaikan harga beras. Menurutnya, pertanian DIY dari sisi cuaca memang kurang menguntungkan, lantaran terjadi bencana beberap waktu lalu. Ditambah, permintaan juga meningkat.

"Demans sedikit naik, karena di ujung tahun. Semua orang datang ke Yogyakarta, karena kita tahu, Yogyakarta ini memang tujuan pariwisata. Tapi, keseluruhan kalkulasi, dari BKPP, Bulog, secara umum, stok beras kita masih aman, dalam pengendalian," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bulog Divre DIY, Miftahul Ulum, memperkirakan panen raya di wilayah DIY akan terjadi pada bulan Februari mendatang.

Lanjutnya, saat ini, panen baru di beberapa daerah saja, seperti Sleman dan Kulonprogo, itupun jumlahnya masih sedikit.

"Panen baru di Sleman, Kulonprogo juga ada, tapi belum serentak, jumlahnya baru sedikit-sedikit. Mungkin, Februari nanti naru serentak. Itu perkiraan kami, mudah-mudahan saja benar," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved