Bemandry Melodikan Kisah Saka dan Lara

Meringkas ratusan halaman cerita menjadi beberapa bait lirik berikut melodi, diakui Bemandry tidaklah mudah.

Penulis: Amalia Nurul F | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Bemandry 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Saka dan Lara, keduanya sama-sama nekat untuk melupakan rasa yang ada dalam hati mereka.

Keegoisan yang mereka pertahankan pun membuat kisah cinta mereka harus terhenti.

Kisah dalam novel KALA karya Stefani Bella dan Syahid Muhammad tersebut pun mengilhami seorang Bemandry, musisi asal Garut untuk membuat soundtrack yang menemani karya tersebut.

"Saka dan Lara ini sebuah ketidaksengajaan. Awalnya lihat buku covernya unik, terus beli dan baca. Eh, seminggu lebih baca, ngerasa asik kalo dijadiin lagu," kata pemuda yang akrab disapa Bem ini.

Novel KALA ini pun menjadi inspirasi bagi Bem untuk kembali bermusik.

"Saya memang punya cita-cita untuk bikin musik untuk sebuah buku. Klimaksnya di KALA ini, jadi ada inspirasi untuk main musik lagi," ungkap pemuda jangkung dan berkacamata ini.

Tak disangka, antara bulan Agustus dan September tahun lalu, Bem bertemu dengan dua penulis novel KALA yang saat itu tengah singgah di Yogyakarta.

"Iid (Syahid Muhammad) dan Bella (Stefani Bella) main ke Yogya, kebetulan mereka ada meet and greet. Kami lalu saling kenalan person to person, untuk lebih akrab aja. Mereka juga cerita mau bikin lanjutan kala yaitu Amorfati," terang Bem.

Dalam kesempatan tersebut, menyampaikan idenya untuk membuat lagu yang melatari novel KALA.

"Saya sampaikan ide untuk bikin lagu yang melatari KALA. Eh mereka setuju. Dapat follow up dari penerbit novel KALA yaitu Gradien Mediatama," kata Bem.

Meringkas ratusan halaman cerita menjadi beberapa bait lirik berikut melodi, diakui Bemandry tidaklah mudah.

Mulai dari penulisan lirik hingga rekaman sederhana menggunakan ponsel, memakan waktu hanya dua pekan saja.

"Single ini, prosesnya singkat. Aransemen dan lirik, sama rekaman dari hape yang masih belum fix,  dikasih waktu dua minggu," tutur musisi kelahiran Jakarta, 7 September 1991 ini.

Rasa khawatir pun juga ia rasakan, terlebih soal ketepatan pilihan kata dalam penulisan lirik.

"Liriknya bener nggak, jadi baca-baca lagi novel KALA. Rekaman pun H-4 deadline baru bisa, karena studio rekaman penuh," jelasnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved