Proxy War, Cara untuk Menguasai Kekayaan Sumber Daya Alam Indonesia
Indonesia sebagai negara yang kaya dan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah akan membuat iri negara-negara yang ada di dunia.
Penulis: Tantowi Alwi | Editor: Ari Nugroho
Laporan Reporter Tribun Jogja, Tantowi Alwi
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Saat ini jumlah penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar jiwa, dari penelitian idealnya bumi hanya mampu menghidupi 3-4 miliar penduduk.
Dengan semakin membludaknya jumlah penduduk dan habisnya cadangan energi minyak bumi pada tahun 2043, maka akan menyebabkan krisis pangan dunia.
Indonesia sebagai negara yang kaya dan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah akan membuat iri negara-negara yang ada di dunia.
Hal itu disampaikan oleh Letnan Kolonel Jaelan, Kasiterrem, Korem 072/PMK dalam acara seminar nasional Keislaman dan Kebangsaan di Universitas Islam Indonesia.
Baca: Gadis Manis yang Masih Duduk di Bangku SMA Ini Tak Malu Berjualan Jamu Demi Mencari Rezeki
"Banyak cara dilakukan negara asing untuk menguasai kekayaan alam Indonesia, salah satu cara yaitu dengan membuat Proxy War," kata Letnan Kolonel Jaelan.
Menurutnya, proxy war adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi resiko konflik langsung yang beresiko pada kehancuran fatal.
"Biasanya pihak ketiga yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang juga bisa non state actors yang dapat berupa LSM, Ormas, kelompok masyarakat atau perorangan," tuturnya.
Ia melanjutkan proxy war merupakan kepanjangan tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan strategisnya.
"Hal ini sudah dilakukan oleh pihak asing terhadap Indonesia dari berbagai sektor, di antaranya ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya," tuturnya.
Di sektor ideologi, indikasi munculnya perang proksi adalah timbulnya keragu-raguan terhadap Pancasila, runtuhnya nasionalisme, bangkitnya gerakan komunis, dan berkembangnya paham terorisme.
Di sektor politik, perang proksi ditandai dengan munculnya kelompok separatis, politik uang, dan politik transaksional.
Dalam aspek ekonomi, ditandai dengan adanya investasi besar-besaran ke Indonesia dengan tujuan untuk menguasai sektor strategis, menciptakan pasar bebas untuk menekan produk Indonesia, menguasai dan menguras sumber daya alam.
Dari aspek sosial dan budaya, ancaman nyata perang proksi di antaranya tingginya penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan pornografi.
Selain itu munculnya gaya hidup hedonisme, maraknya kasus begal dan munculnya LGBT.
Sedangkan dari aspek pertahanan dan keamanan yaitu dengan menciptakan kelompok-kelompok teroris, menciptakan konflik sehingga Indonesia tidak dapat memproduksi barang-barang komoditas, membangun strategi global dalam rangka menjadikan Indonesia sebagai bagian dari komunitas internasional dan harus mematuhi aturan-aturan internasional.
Menurut Jaelan, mengawal keutuhan NKRI adalah menjadi kewajiban seluruh komponen bangsa.
Baca: Bikin Merinding! Driver Ojol Ini Foto Anak Kecil di Malam Hari yang Berubah Jadi Hantu
Selain itu, ada beberapa cara dalam mengatasinya, yakni modal NKRI yang mempunyai geografi daratan dan lautan yang kaya akan SDA agar dikelola dan dijaga dengan baik dan bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.
"Kemudian kita punya kearifan lokal, yang juga harus dibarengi dengan revolusi mental, Pancasila sebagai pedoman hidup, serta dibutuhkan peran civitas dan akademika, serta mahasiswa dalam mencegahnya perang tanpa bentuk tersebut," kata Jaelan.(TRTRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seminar-keislaman-dan-kebangsaan-di-uii_20171227_100330.jpg)