Terkait Tindakan Amerika Serikat yang Mengakui Yerusalem, Pemimpin Hamas Serukan 'Intifada'

Pada Intifada pertama, kekerasaan bukanlah satu-satunya acara melakukan pemberontakan.

Tayang:
Penulis: Fatimah Artayu Fitrazana | Editor: Ari Nugroho
www.jpost.com
Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh sampaikan ada kemungkinan Intifada akan pecah karena keputusan Amerika Serikat mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

TRIBUNJOGJA.COM - Pemimpin Hamas menyebutkan adanya kemungkinan untuk melakukan 'Intifada' terhadap Israel, menyusul pengumuman pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Amerika Serikat, Kamis (7/12/2017).

Pemimpin kelompok militan Palestina yang menguasai Jalur Gaza, Hamas, Ismail Haniyeh kemarin, Kamis (7/12/2017) menanggapi langkah Presiden Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Dalam pidatonya, Haniyeh mengatakan, bagi Hamas keputusan tersebut adalah sebuah 'deklarasi perang.'

"Yerusalem telah diculik dan dirampas dari kami (Palestina)," ucap Ismail Haniyeh dikutip dari The Washington Post.

Ismail Haniyeh saat berpidato di Gaza pada Kamis (7/12/2017).
Ismail Haniyeh saat berpidato di Gaza pada Kamis (7/12/2017). (www.wbir.com)

Haniyeh menyampaikan, pihaknya telah memberikan instruksi kepada seluruh anggota Hamas dan seluruh sayapnya siap penuh untuk komando selanjutnya.

Pasukan Hamas telah bersiap menunggu perintah untuk bergerak, jika bahaya strategis mengancam Yerusalem dan Palestina.

Baca: Massa di Yogyakarta Melakukan Aksi Penolakan Yerusalem Menjadi Ibu Kota Israel

Lalu, apa maksud dari Intifada yang dimaksud pemimpin Hamas?

Intifada bukanlah istilah baru dalam konflik Israel dan Palestina.

Dalam sejarah Israel dan Palestina, intifada dikaitkan dengan aksi pemberontakan Palestina melawan Israel.

Intifada mejadi isu yang paling diantisipasi
Intifada mejadi isu yang paling diantisipasi (www.foxnews.com)

Intifada pertama terjadi pada 1987 dan 1993. Kemudian tahun 2000an pemberontakan kembali dilakukan dengan lebih besar.

Menurut The Washington Post, Intifada memiliki makna yang luas selain pemberontakan, misalnya "mengguncangkan sesuatu" atau "getaran."

Pada Intifada pertama, kekerasaan bukanlah satu-satunya acara melakukan pemberontakan.

Pemboikotan menjadi aksi yang mendominasi sampai awal 90an.

Intifada kedua pecah pada tahun 2000an, yang menjadi akibat dari tarik-ulur perundingan damai antara Perdana Menteri Israel, Ehud Barak dan ketua Organisasi Pembebasan Palestina, Yasser Arafat.

Pemicunya adalah ketika calon Perdana Menteri, Ariel Sharon pergi ke Bukit Bait Suci atau Temple Mount di Yerusalem, yang menjadi lokasi Masjid Al-Aqsa.

Saat itu Sharon menyerukan, "Bukit Bait Suci ada di tangan kita!"

Hal itu dianggap sebagai statemet status yang menyinggung umat muslim Palestina dan wilayah lain.

Dan Hamas memperingatkan melalui pidato Ismail Haniyeh kemarin, Intifada ketiga mungkin saja terjadi jika Amerika Serikat dan pihak-pihak lain berusaha menguasai Yerusalem.

 (Tribun Jogja/ Fatimah Artayu Fitrazana)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved