Pengelola Ponpes di Sleman Ini Mengaku Tidak Tahu Ponpesnya Masuk Wilayah KRB

Jika sejak awal tahu bahwa wilayahnya zona bahaya maka tentu pihaknya tidak akan membangun di lokasi tersebut.

Pengelola Ponpes di Sleman Ini Mengaku Tidak Tahu Ponpesnya Masuk Wilayah KRB
TRIBUNJOGJA.com / Arfiansyah Panji
Suasana Ponpes Bidayatussalikin 2, Purwobinangun, Pakem, Selasa (5/12/2017). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Selain memasang plang papan peringatan dan ancaman di The Lost World Castle, Kementerian Agraria dan Tata Ruang (ATR) RI bersama Pemerintah Kabupaten Sleman juga melakukan pemasangan di lokasi yang masuk kawasan rawan bencana (KRB) yaitu Pondok Pesantren (Ponpes) Bidayatussalikin 2 di Purwobinangun, Pakem, Selasa (5/12/2017).

Pengasuh Ponpes Bidayatussalikin 2, KH Abdullah Deni menjelaskan pihaknya tidak mengetahui bahwa Ponpes yang berdiri sejak 2016 termasuk zona merah KRB.

"Waktu itu kita memang dipanggil Sekda demi Allah tidak tahu kalau bangunan ini ada KRB," terangnya, Selasa (5/12/2017).

"Kita ada SOP, kalau ada apa-apa kita bisa turun ke bawah kita ada bak terbuka. Saya mau patuh kalau ada apa-apa (bencana)," cetusnya.

Lanjutnya, ponpes tersebut sangat bermanfaat menampung santri dari ponpes pertama di Triharjo yang overload.

Ia pun menjelaskan, jika sejak awal tahu bahwa wilayahnya zona bahaya maka tentu pihaknya tidak akan membangun di lokasi tersebut.

"Kalau saya tahu ngapain saya bangun di sini, dengan keyakinan saya tempat ini sangat baik untuk pemulihan iklimnya kondusif," terangnya.

"Sosialisasi pertama dan kedua juga nggak ngerti. Surat datang 16 Juni saya juga nggak ngerti. 24 November disurati lagi saya mengikuti aturan dan menyerahkan surat-surat ke pejabat," ujarnya, pihaknya sebelumnya juga telah memasukkan proposal ke PUPR. (*)

Penulis: app
Editor: Gaya Lufityanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved