Warga Dlingo Ini Tanam Bambu Hingga Mancanegara
Pada musim kemarau, bambu satu rumpun mampu mengeluarkan sebanyak15 -25 liter per 24 jam.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Mastok Setyanto (50), warga asli Dlingo ini sudah 15 tahun mengembangkan konservasi alam melalui bambu.
Menurutnya, jika bambu tidak ada di pinggir sungai artinya bahaya sudah mengintip.
Bambu dapat menjadi dinding penahan tanah.
Pada musim kemarau, bambu satu rumpun mampu mengeluarkan sebanyak15 -25 liter per 24 jam.
"Setiap 10 tahun bumi semakin panas naik 2 derajat. Nah agar tidak panas itu buat kanopi. Satu kali menanam bambu akan terus berkembang dan memiliki bilai produksi sampai 40 tahun," jelas Mastok, Sabtu (2/12/2017).
Ia mengatakan, Indonesia termasuk 5 besar negara yang punya potensi bambu.
Selain konservasi alam melalui bambu, ia juga berhasil mengolah bambu menjadi 150 produk yang memiliki nilai jual tinggi.
"Sebenarnya ini tujuannya untuk perlindungan konservasi. Hasil olahan yang memiliki nilai jual itu bonusnya," tuturnya kepada tribunjogja.com
Selama ini produk-produk olahan bambu tersebut didapat dari bambu yang ia tanam sendiri.
"Sejauh ini sudah menanam bambu di 9 Provinsi yang punya potensi bambu seperti Sumatra, Sulaweai, NTB, Bali, NTT, Pulau Jawa," Imbuhnya.
Bahkan ia juga telah menanam bambu hingga mancanegara yaitu Thailand, Afrika dan India. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/mastok-setyanto-warga-asli-dlingo-ini-mengolah-bambu-yang-memiliki-nilai-jual-yang-tinggi_20171202_212156.jpg)