Mengerikan! Seperti Inilah Amukan Badai di Tengah Samudera

Bagi para pelaut, mungkin ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dan termasuk resiko pekerjaan.

Tayang:
Editor: Mona Kriesdinar
IST
Sebuah kapal menembus Badai Gertrude di Samudera Atlantik pada 29 Januari 2016 lalu 

TRIBUNJOGJA.COM - Kali pertama dua badai lahir di wilayah Indonesia dalam sepekan. Pertama badai siklon tropis cempaka yang kemudian disusul siklon tropis dahlia.

Kedua badai tersebut telah memicu cuaca ekstrem di sekitar Pulau Jawa. Bahkan di wilayah DIY, badai cempaka telah memicu banjir dan tanah longsor.

Adapun baik siklon tropis Cempaka, lahir di perairan Selatan Jawa Tengah, sekitar 100 Km sebelah selatan tenggara Cilacap pada titik 8,6 lintang selatan dan 110,9 bujur timur.

Sementara Dahlia lahir di wilayah 470 km sebelah barat daya Bengkulu pada 8,2 derajat Lintang Selatan dan 10,8 derajat Bujur Timur.

Bila dilihat ke belakang sejak berdirinya Jakarta Tropical Center Warning Center (TCWC) pada 24 Maret 2008, telah ada beberapa siklon tropis di daerah Indonesia.

Salah satunya adalah siklon tropis Durga di perairan barat daya Bengkulu pada 22-25 April 2008.

Siklon tropis lain yang pernah terbentuk adalah Anggrek di perairan barat Sumatera pada 30 Oktober-4 November 2010 dan Bakung di barat daya Sumatera pada 11-13 Desember 2014.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo, berkata bahwa lahirnya siklon tropis di wilayah Indonesia sendiri jarang.

"Ini betul-betul suatu pengalaman baru bagi kita khsusunya setahun terjadi dua siklon, bahkan seminggu,” katanya.

Dia mengatakan, pembentukan dua siklon tropis sekaligud di wilayah Indonesia merupakan pertama kali dalam sejarah.

Setelah Dahlia, kata Mulyono, tak menutup kemungkinan terjadi siklon tropis baru lainnya dalam waktu dekat.

Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan tekanan yang tidak merata di permukaan di wilayah Indonesia. Selain itu, anomali suhu permukaan laut juga turut berperan.

Mulyono menjelaskan, saat ini matahari berada di bagian selatan Bumi. Belahan Bumi selata menjadi lebih hangat dibandingkan dengan belahan bumi utara.

Perbedaan ini membuat atmosfer di belahan Bumi selatan lebih cair dan lebih renggang. Maka, tekanan udara menjadi lebih rendah.

“Kalau permukaan tekanan udaranya sama rata, aliran udara juga rata dari barat ke timur. Tapi begitu ada sistem tekanan udara yang pusatnya rendah sedikit saja, maka aliran udara itu sebagian akan masuk ke pusat tekanan rendah itu dulu sebelum lewat ke tempat lain,” kata Mulyono.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved