Dulunya Juru Smash, Kini Slamet Jadi Libero Tangguh
Pemain yang besar dari kompetisi voli antar kampung ini mengakui, posisinya sebagai libero memiliki peran yang sangat sentral.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hanif Suryo
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Postur tubuhnya yang dianggap kurang tinggi sebagai seorang spiker atau juru smash pada olah raga bola voli justru menjadi berkah bagi seorang Slamet Rudianto.
Atlet voli yang akan memperkuat tim Sukun Yuso Gunadhama pada kompetisi LIVOLI Divisi Utama 2017 Desember mendatang, mengaku sempat frustasi karena ia sudah nyaman bermain sebagai seorang spiker, namun ketika tergabung bersama tim Kejurnas DIY di Bogor ia justru di pasang sebagai seorang libero atau pemain yang bertugas menerima atau menahan berbagai serangan dari pemain lawan dengan melakukan teknik passing bawah maupun passing atas.
"Dulunya juru smash justru sekarang malah sering menerima smash dari lawan," ujar pemain voli yang berasal dari Wonogiri ini.
Diakui olehnya, masa adaptasi posisi baru dalam waktu singkat bukanlah hal yang mudah, apalagi beban mewakili Yogyakarta di ajang Kejurnas.
Menurut Slamet, waktu pelaksanaan Kejurnas di Bogor, Yogyakarta menjadi tim unggulan, namun akhirnya harus menerima kenyataan tersingkir dan tak masuk empat besar.
"Kegagalan di Kejurnas membuat saya sempat down, merasa bermain kurang maksimal. Bahkan saya sempat tidak latihan karena meratapi kegagalan tersebut," ujar pemain yang memiliki tinggi 175 cm ini.
Tak ingin terus meratapi kegagalan, Slamet justru membuktikan bahwa ia tak menyianyiakan kesempatan yang diberikan oleh pelatih.
Pada ajang Pra Pon dan PON 2011, Slamet kembali memperoleh kepercayaan mewakili DIY.
Bahkan setelah sempat frustasi karena masa adaptasi posisi baru sebagai libero, ia tebus lunas sebagai libero terbaik DIY 2012/2013.
Prestasi tertinggi Slamet adalah sewaktu turut mengantarkan Jakarta Electic PLN meraih juara Proliga tahun 2015 bersama Okly Ibrahim yang juga merupakan rekannya sesama binaan Yuso.
Pemain yang besar dari kompetisi voli antar kampung ini mengakui, posisinya sebagai libero memiliki peran yang sangat sentral.
Berbeda ketika ia berperan sebagai seorang spiker.
Menurutnya, ketika tim voli menang yang menjadi sorotan utama adalah spiker tim tersebut karena berarti ia mampu mencetak banyak poin.
Sedangkan apabila tim tersebut kalah, yang menjadi sorotan utama adalah libero, karena ia dianggap tak mampu mengatasi serangan lawan hingga berbuah banyak poin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/slamet-rudianto-libero-sukun-yuso-gunadharma_20171123_172711.jpg)