Diskusi 724 Tahun Majapahit

Islam Sudah Eksis di Trowulan Sejak Masa Awal Majapahit. Inilah Bukti-buktinya!

Bukti utama agama Islam adalah keberadaan makam Troloyo yang bercorak Islam di Trowulan

TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumarga
Makam Troloyo 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA -  Ahli arkeologi Islam dan Cina dari UGM, Fahmi Prihantoro SS SH MA membeber petunjuk eksisnya orang Islam di Trowulan, pusat Kerajaan Majapahit.

Bukti utama adalah keberadaan makam Troloyo yang bercorak Islam, meski ada yang menggunakan simbol percampuran Islam dan lambang Surya (Matahari) Majapahit.

"Angka tahun nisan di Troloyo menunjuk 1298 Masehi. Itu termasuk masa-masa awal kemunculan Majapahit," kata Fahmi.

Data ini disampaikan Fahmi Prihantoro pada diskusi 724 Tahun Majapahit di Ruang Multimedia Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (21/11/2017).

Namun demikian, makam itu tidak meninggalkan data dan petunjuk lain tentang siapa-siapa yang dimakamkan di lokasi itu, apa status dan kedudukannya, dan dari mana persisnya asal orang-orang Islam itu.

Diskusi 724 Tahun Majapahit di Ruang Multimedia Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (21/11/2017).
Diskusi 724 Tahun Majapahit di Ruang Multimedia Fakultas Ilmu Budaya UGM, Selasa (21/11/2017). (TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumarga)

"Secara arkeologis keberadaan makam Islam itu kuat berasal dari masa awal Majapahit. Masih insitu dan tidak banyak berubah di banding beberapa situs lain di sekitarnya.

Hal menarik yang belum banyak diteliti dan ini dimungkinkan bisa memperkuat intrepretasi siapa yang dimakamkan di lokasi itu adalah penggunaan simbol Surya Majapahit yang ditambahi simbol lontar di tengah-tengahnya.

"Hipotesis awal saya, dan ini masih butuh penelitian mendalam, ada unsur dan ciri Budhist dan lokal di simbol itu. Jika dirunut, kemungkinan besar itu makam orang Cina Muslim," kata Fahmi.

Mengenai status dan kedudukan makam yang sangat dekat dengan area yang diyakini sebagai Kedaton atau pusat kerajaan, bisa menunjukkan orang-orang yang dimakamkan di situ berkedudukan penting.

"Mungkin sebagai pedagang dan bisa juga ahli yang dilibatkan dalam pembangunan keraton Majapahit, yang dari hasil penelitian arsitekturnya sangat bercorak Cina," lanjut Fahmi.

Halaman
123
Penulis: Setya Krisna Sumargo
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved