Mbah Bei, Sosok Leluhur di Balik Sejarah Bendung Kayangan

Ia adalah sosok leluhur yang dihormati warga setempat karena jasanya dalam membangun sistem kehidupan masyarakat.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Warga Pendoworejo, Girimulyo, mengikuti acara kembul sewu dulur di bendung kayangan. 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Festival Kembul Sewu Dulur atau tradisi Rebo Pungkasan yang digelar di Bendung Kayangan, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Rabu (15/11/2017), erat kaitannya dengan sosok Mbah Bei Kayangan.

Ia adalah sosok leluhur yang dihormati warga setempat karena jasanya dalam membangun sistem kehidupan masyarakat.

Mbah Bei dalam cerita turun temurun di kalangan warga adalah sosok yang pertama kali menginisiasi pembangunan bendung di sungai Kayangan, sejak sebelum masa penjajahan.

Tepatnya di bawah titik pertemuan dua alur sungai, Kledung dan Ngiwo.

Berkat adanya bendungan itu, areal ladang milik warga bisa tetap produktif saat musim kemarau karena selalu teraliri air dari sungai tersebut.

Bendungan itu selalu dibuat oleh Mbah Bei saat musim kemarau tiba dan setelah itu selalu digelar kenduri bersama di sini.

Baca: Festival Kembul Sewu Dulur, Rajutan Persaudaraan dari Tepi Sungai Kayangan

Pada suatu waktu di hari Rabu, Mbah Bei tidak tampak hadir kenduri dan konon disebut telah moksa (meninggal) dan bersemayam di kayangan (surga).

"Dari situ, tempat ini disebut sebagai Bendung Kayangan dan kenduri Rebo Pungkasan itu tetap dilaksanakan hingga sekarang untuk melestarikan jasa Mbah Bei," kata Mulyono, Pemangku Adat warga Pendoworejo, Rabu (15/11/2017).

Pada perkembangan selanjutya, penjajah kolonial mulai masuk ke Nusantara dan Bendung Kayangan dibikin jadi bangunan permanen.

Dulunya, Sungai Kayangan itu menurut Mulyono punya aliran air yang mencapai wilayah Kalibawang. Namun, semenjak dibangunnya Selokan Mataram, aliran Sungai Kayangan hanya melayani daerah-daerah di area bawah.

Pihaknya menginginkan agar tradisi kenduri dhahar kembul di Bendung Kayangan itu ke depan bisa tetap lestari sebagai bagian dari prosesi budaya dan atraksi wisata.

Namun, disadari bahwa hal itu tak mungkin terjadi jika keberadaan bendungan itu tak lagi membawa manfaat bagi masyarakat.

Pasalnya, air dari sungai itu menjadi tumpuan irigasi ladang-ladang di Pendoworejo dan sekitarnya.

"Saya sebagai pemangku adat juga mendukung berkembangnya Bendung Kayangan sebagai destinasi wisata. Namun, bendungan harus terus menjadi pancer (poros) yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitarnya," kata Mulyono.

Sekretaris Dinas pariwisata (Dinpar) DIY, Rose Sutikno mengatakan, Festival Kembul Sewu Dulur ini menjadi embrio wisata budaya di Bendung Kayangan.

Pengembangan destinasi wisata ini perlu dikuatkan dengan mendorong partisipasi warga.

Di antaranya dengan menunjukkan produk unggulan berbasis kearifan lokal sehingga roda perekonomian turut tergerakkan.

"Jika hanya menawarkan tempat, daya tariknya lama kelamaan akan hilang," kata dia.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved