Digie Sigit Ekspresikan Kritik Sosial melalui Boks Fasilitas Publik

"Keberadaan box-box itu sangat tidak Jogja banget, dan sangat menghina kecerdasan publik"

Tayang:
Penulis: rap | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Riezky Andhika Pradana
Digie Sigit 

TRIBUNJOGJA.COM - Di beberapa sudut kota terdapat boks PLN dan Telkom.

Secara visual, boks tersebut tampak sangat tidak terawat, penuh dengan coretan serta tempelan poster iklan.

Kondisi boks itu kotor dan kumuh.

Bermaksud untuk merapikan boks tersebut, seorang street artist, Digie Sigit membuat gambar dengan muatan kritik sosial.

"Keberadaan box-box itu sangat tidak Jogja banget, dan sangat menghina kecerdasan publik," ujar Digie Sigit usai merampungkan karya-karyanya di beberapa titik.

Ada beberapa titik yang sudah ia gambar, di antaranya di depan Pasar Prawirotaman, Pasar Kuncen, dan bagian utara Tugu.

Sigit serius menggeluti street art sejak akhir tahun 1997.

Menurtnya media ini lebih menarik, ia bisa menemukan esensi berkesenian dan dapat langsung melakukan presentasi karya di hadapan masyarakat saat melakukan pemasangan karya.

Dalam berkarya, Sigit mengunakan metode seni grafis dengan teknik stencil art.

Ia kerap menggunakan ruang publik sebagai medianya.

Pria kelahiran Yogyakarta, 29 April 1977 ini tidak hanya berekspresi dengan karya visual, pria yang pernah kuliah di jurusan seni grafis, seni murni, ISI Yogyakarta ini juga dikenal sebagai pemusik.

Bersama grupnya Teknoshit, ia memainkan elektronik rock.

Teknoshit telah menelurkan beberapa album, di antaranya ‘Elektronik Revolution,’ ‘Anti Diskriminasi Gender,’ dan ‘Lifevolution.’

Sebagai street artist, kegiatan Sigit juga dibingkai dalam video dokumenter berjudul 'Buruh Seni.'

Dalam film tersebut menampilkan sosok Digie Sigit sebagai seorang tokoh yang memiliki kepedulian akan masalah sosial politik, khususnya terhadap buruh dengan cara menghasilkan karya-karya stencil diruang-ruang publik.

Ia kerap mengangkat tema buruh dan solidaritas buruh, karena menurutnya selama kondisi sosial politik masih seperti sekarang dan warga negara dibawah tekanan penguasa, maka kita semua adalah seorang buruh termasuk Sigit yang menganggap dirinya sebagai buruh seni. Film ini dibuat oleh sutradara Eden Junjung. (Tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved