Seusai Dilantik, Sri Sultan : Pintu Jogja Sedang Menghadap ke Selatan. Ini Maknanya
Sri Sultan usai proses pelantikan mengatakan saat ini 'pintu' Yogyakarta sedang menghadap ke Selatan. Dirinya mengartikan
TRIBUNJOGJA.com, JAKARTA - Tepat lima tahun hari terakhir periode menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam , kembali dilantik untuk periode 2017-2022.
Memakai pakaian dinas upacara besar, kedua pemimpin Yogyakarta itu mengikuti prosesi pelantikan secara khidmat di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/10).
Sri Sultan dan Paku Alam yang sampai di Jakarta pada Selasa siang, langsung menuju rumah perwakilan daerah yang berada di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta.
Keduanya yang didampingi oleh istri dan anak mereka, segera bertolak menuju Istana usai santap siang.
Sebelum dilantik, keduanya mengikuti proses kirab budaya dan penyerahan petikan keputusan presiden No 107P/2017 tentang pengangkatan Sri Sultan dan Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.
Supir pribadi Sri Sultan, Aboy menjelaskan pria yang diangkat menjadi Sultan selama 28 tahun itu, tidak menyiapkan hal-hal khusus untuk pelantikan kali ini. Meski baru pertama kalinya pelantikan gubernur Yogyakarta diadakan di Istana Negara.
Semua hal yang dibutuhkan Sri Sultan sudah berada di Jakarta, termasuk kendaraan yang biasa dipakai, yakni mobil Mercedez Benz seri GLS berwarna abu-abu. Hanya pakaian upacara yang dibawa langsung dari Kraton Yogyakarta.
"Tidak ada sih. Beliau orangnya tidak pernah macam-macam. Tidak suka hal-hal yang merepotkan orang," ucapnya di komplek Istana Kepresidenan.
Baca: Maklumat Selamatkan Dinasti Hamengku Buwono - Begini Bunyinya
Aboy yang sudah menjadi supir pribadi Sri Sultan selama 27 tahun itu, mengaku pribadi Sultan setiap kali akan menghadiri acara besar, hanya diam selama di perjalanan. Perbincangan hanya dilakukan dengan Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang selalu ada disampingnya.
"Iya paling kalau ngobrol sama ibu. Kalau sama saya, jarang. Tadi juga ke sini, sama ibu saja bicaranya," jelas dia.
Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam konfrensi persnya juga menjelaskan bahwa tidak mempermasalahkan pelantikan berlangsung di Istana Negara, Jakarta. Pasalnya, selama ini, mereka dilantik di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta.
"Tidak masalah mau di Yogya atau di Jakarta, semua keputusan presiden," ucap dia.
Pintu Yogya Hadap Selatan
Sri Sultan usai proses pelantikan mengatakan saat ini 'pintu' Yogyakarta sedang menghadap ke Selatan. Dirinya mengartikan, rencana pembangunan lima tahun ke depan akan fokus pada penguatan bahari.
Dirinya menjelaskan Yogyakarta relatif memiliki wilayah yang kecil. Terbatasnya lahan, membuat kemungkinan pembangunan sektor pertanian dan perkebunan semakin sedikit. Oleh karena itu, dirinya menginginkan sebuah potensi baru di Selatan Yogyakarta.
"Yogya ini sekarang pintunya menghadap ke Selatan, dalam arti memprioritaskan Samudera Indonesia. Samudera Indonesia akan menjadi kekuatan baru bagi masyarakat Yogya," tukasnya.
Caranya, urai dia, tidak hanya akan sekedar membangun fasilitas pendaratan kapal. Tetapi juga akan melakukan pengadaan kapal laut dalam jumlah yang efektif. Tujuannya, agar masyarakat dapat memiliki budaya maritim.
"Karena kita disatukan lautan jadi budaya maritim itu yang sudah ada sebagai dasar filosofi. Jadi itu yang harus dibangkitkan kembali," kata Sultan.
Budaya masyarakat Jawa yang saat ini berkembang, dinilai olehnya akan menjadi kekuatan lokal untuk memperkuat potensi bahari dengan skala nasional. Serta akan membantu strategi kemaritiman pada tingkat pusat.
"Ini akan menjadi nafas baru dalam perubahan. Tetapi tetap dibangun secara kebersamaan dan saling menghargai," jelas dia.
Kesempatan Perempuan Jabat Gubernur
Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa dirinya belum akan mengubah pandangannya soal kemungkinan Yogya dipimpin perempuan.
Bahkan, menurutnya, pria yang tidak punya istri, tidak punya anak pun berhak mencalonkan diri sebagai Gubernur Yogya selama sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.
"Gubernur sebagai pejabat publik, bagian dari NKRI, seharusnya tidak mengenal jenis kelamin, menikah atau belum, semua bisa mencalonkan diri," tegasnya.
Sultan meminta kata "istri" dalam pasal 18 UU No 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Yogyakarta, tentang riwayat hidup calon Gubernur DIY, dihilangkan.
Sebab, menurutnya, kata itu bermaknan diskriminatif, membatasi posisi Gubernur DIY hanya untuk mereka yang beristri alias umumnya pria. Mahkamah Konstitusi dalam putusannya, memenangkan gugatannya dan resmi menghapus kata "istri" dari Pasal 18.
"Saya sebenarnya belum mau pensiun. Jadi, tidak bicara itu," jelas dia.
Sementara itu Dirjen Otonomi Daerah, Sumarsono mengatakan jabatan gubernur akan memiliki urusan langsung kepada pemerintah pusat dan negara. Pasalnya, keistimewaan Yogyakarta hanya berada pada tataran siapa yang menjadi sultan, dia juga yang akan menjadi gubernur.
Sementara, perkara siapa yang akan menjabat menjadi Sultan, maka hal itu sudah menjadi wilayah dan keputusan Kraton.
"Kalau dia jadi sultan, dia juga jadi gubernur. Urusan siapa yang menjadi Sultan, itu diserahkan kepada Kraton. Negara tidak ikut campur," jelasnya.(rio)
Berita ini sudah tayang di TRIBUNNEWS dengan judul Seusai Dilantik, Sri Sultan Sebut 'Pintu Yogyakarta Sedang Menghadap Selatan'