Terdampak Kekeringan, Warga Terpaksa Mandi Satu Kali Sehari
Keperluan memasak jelas diutamakan. Namun, untuk mandi, warga terpaksa 'memangkas jatah', sehingga terpaksa hanya mandi satu kali dalam sehari.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Kekeringan yang menyebabkan krisis air bersih, sudah dirasakan oleh warga Desa Kalisari, Tubansari, Margoyoso, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, sejak kisaran bulan Juli lalu, atau selepas Hari Raya Idul Fitri.
Dampaknya, warga pun terpaksa menghemat persediaan air bersih.
Keperluan memasak jelas diutamakan.
Namun, untuk mandi, warga terpaksa 'memangkas jatah', sehingga terpaksa hanya mandi satu kali dalam sehari.
"Air bersih prioritas untuk masak. Kalau mandi, ya terpaksa satu hari sekali, itupun di sungai, biasanya menjelang Salat Dzuhur. Anak-anak kalau mau berangkat sekolah mandinya juga di sungai," ujar seorang warga, Winarti (53) di sela-sela agenda droping air bersih oleh Satlantas Polres Magelang, Rabu (13/9).
Yakub (80), warga Desa Kalisari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, juga mengungkapkan hal serupa.
Menurutnya, ekeringan sudah melanda daerahnya dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, ia mengatakan, warga telah berupaya untuk mengatasi kekeringan, dengan memasang peralon air, yang disambungkan ke Desa Wonogiri, Kecamatan Kajoran.
"Lumayan, air dari Kajoran bisa mengalir sampai sini. Bisa memenuhi kebutuhan sekitar sembilan kepala keluarga," katanya.
Sementara itu, Kepala Seksi Logistik, Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Nurhadi, menuturkan bahwa pihaknya sudah melakukan dropping air bersih secara rutin, ke sejumlah daerah rawan kekeringan.
"Sejak sejak bulan Juli, hingga hari ini, Rabu (13/9), sedikitnya 85 tangki sudah kami distribusikan," ungkapnya. (*)