Resensi Buku
Saatnya Mahasiswa Bergerak
Melalui buku ini juga, penulis mengutarakan keresahan-keresahannya atas dunia pendidikan terutama kampus.
Oleh: Tuhu Hermawan
Pegiat Social Movement Institute
- Kreativitas mewajibkan kita untuk selalu bersedia untuk tidak patuh - Einstein
Lesunya dinamika kampus akhir-akhir ini memang sangat mencemaskan banyak kalangan. Bahkan beberapa mulai timbul kekhawatiran, apakah kampus masih bisa dijadikan sandaran untuk menciptakan generasi yag cerdas, kreatif, inovatif atau bahkan progresif.
Hal inilah yang kemudian ingin di bidik dalam buku “Bergeraklah Mahasiswa” karya Eko Prasetyo. Buku satir sekaligus provokasi yang isinya banyak menceritakan dinamika kampus, mulai dari mahasiswa yang tuna wacana, aturan yang ketat, kebijakan yang semakin tidak bersahabat, pemangkasan masa studi, beban jam kuliah yang padat, semakin melambungnya biaya pendidikan serta tak jarang tuntutan kampus untuk cepat lulus, wisuda dan kemudian cepat bekerja.
Hal seperti ini mungkin saja di temukan penulis dibanyak kesempatan saat bergaul dengan berbagai kelompok mahasiswa. Bukan saja di satu tempat bahkan berkemungkinan sama di tempat-tempat yang lain. Dan keresahan-keresahan itulah yang kemudian menjadi bahasan utama dalam bukunya kali ini.
Tidak hanya sebagai bentuk sindiran, tetapi jelas bahwa penulis juga berharap buku ini mampu melecut mahasiswa untuk bisa bangkit dan melawan segala hal yang sebenarnya bertentangan dengan nalar dan logika.
Cerita imajiner dengan Einstein dalam buku ini jelas menunjukkan sinyal tersebut (hal. 82). Dimana hampir semua orang tahu bahwa si jenius tersebut bukanlah orang yang patuh dengan sekolah.
Justru kejeniusannya tersebut didapat saat tidak terkekang dalam aturan-aturan yang memenjarakan anak didik. Cerita wawancara imajiner ini memang sengaja dihidupkan penulis agar anak didik (baca: mahasiswa) punya stimulus untuk mulai berpikir dan bertindak.
Kalau istilah mahasiswa, hanya ada dua pilihan bagi gerakan hari ini, yaitu bangkit melawan atau diam tertindas.
Imajiner dengan Einstein ini mau mengambil peran untuk membangkitkan mahasiswa agar kembali bergerak dan melawan, mulai dari melawan paradigma yang keliru tentang kuliah, yang diasumsikan hanya untuk mengejar indek penilaian kumulatif (IPK) semata hingga melawan aturan serta kebijakan kampus yang memang kerap tidak berpihak pada kepentingan peserta didiknya.
Selain kritik otokritik terhadap peranan mahasiswa, hal lain yang bisa dilihat dalam buku ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan kita sekarang tidaklah seindah yang dibayangkan; kuliah, lulus kemudian dapat kerja mentereng. Itu adalah gagasan yang sudah lapuk semenjak dahulu, yang sekarang masih terus dipaksakan untuk diterima pemahamannya.
Sehingga wajar saja kemudian ukuran keberhasilan itu kerap dialamatkan pada pencapaian nilai kumulatif yang bersaing; semakin tinggi maka semakin bagus.
Padahal, semua itu hanyalah formalitas semata. Karena kemudian hal lain yang justru berpengaruh besar dalam kehidupan adalah petualangan dan persentuhan dengan persoalan-persoalan sosial itu yang justru lebih banyak memberi arti. Karena petualangan di sertai persentuhan dengan dunia sosial yang ada, yang justru akan lebih membuat pemikiran lebih berkembang dan terbuka (hal. 25-27).
Ini kritik pendidikan yang sengaja ingin dikabarkan penulis kepada mahasiswa. Situasinya memang mengkhawatirkan. Hal ini setali tiga uang dengan apa yang dipikirkan oleh Ki Hadjar Dewantara, Paulo Freire, Driyarkara dan banyak lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sampul-buku-bergeraklah-mahasiswa_20170911_160016.jpg)