Ngeri! Kampung di Kulonprogo Ini Isinya Tukang Jagal Bersenjatakan Parang 30 Cm

Di wilayah Pedukuhan Banggan dan Blimbing, lebih dari seratus warganya memang memiliki keahlian khusus sebagai tukang jagal musiman.

Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: oda
Tribun Jogja/Agung Ismiyanto
ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Boleh percaya, boleh tidak, hampir semua pria dewasa di kampung ini akan memegang parang dan dicari banyak orang saat Hari Raya Kurban atau Idul Adha.

Ya, inilah Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo yang kondang sebagai kampung jagal.

Menyembelih dan menguliti hewan kurban memang tak bisa sembarangan dan tak semua orang bisa melakukannya dengan benar.

Sukoreno kerap menjadi rujukan ketika masyarakat mencari tukang jagal musiman untuk pekerjaan itu.

Di wilayah Pedukuhan Banggan dan Blimbing, lebih dari seratus warganya memang memiliki keahlian khusus sebagai tukang jagal musiman.

Kepiawaian mereka dalam menyembelih dan menguliti hewan kurban hingga tuntas telah diakui tak hanya oleh masyarakat Kulonprogo melainkan juga Sleman, Bantul, dan Kota Yogya bahkan Purworejo.

Sejarah kampung jagal tak lepas dari adanya sebuah kompleks kandang besar penjualan sapi milik Olan Suparlan yang ada di Pedukuhan Blimbing.

Keluarga Olan selama puluhan tahun terakhir dikenal sebagai saudagar sapi yang usahanya dirintis oleh sang ayah, Alm Haji Supardi sejak masa 1980-an silam dan kini usaha tersebut diteruskannya.

Olan Suparlan, pengusaha/pedagang sapi yang sekaligus mengoordinasi ratusan tukang jagal dari Desa Sukoreno Sentolo Kulonprogo sejak 1990an.
Olan Suparlan, pengusaha/pedagang sapi yang sekaligus mengoordinasi ratusan tukang jagal dari Desa Sukoreno Sentolo Kulonprogo sejak 1990an. (tribunjogja/yosephharyw)

Keluarga tersebut setiap tahunnya menjelang Idul Adha selalu mengumpulkan para penjagal itu untuk disebar ke berbagai wilayah sesuai area distribusi hewan kurban yang bisa dijualnya.

Setiap orang biasanya diupah Rp150.000-300.000 ditambah bonus daging kurban.

“Dari tahun 1994 saya mulai ikut njagal bersama keluarga Pak Olan. Dari dulu kan memang jadi pedagang sapi besar sehingga menyerap tenaga kerja dari warga sekitar untuk jadi tukang jagal,” terang Suwartono (52), satu di antara tukang jagal tertua Sukoreno, ditemui di rumahnya di Banggan, Minggu (27/8/2017).

Suwartono mulai belajar menjadi tukang jagal pada usia kepala tiga dari sekadar membantu dan lama kelamaan bisa memotong ternak dengan tangannya sendiri.

Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, pria yang kesehariannya berprofesi sebagai pedagang padi dan beras ini mampu memotong seekor sapi kurang dari satu jam hingga hanya tersisa tulang belulang saja.

Tak ada persiapan khusus yang dilakukannya sebelum memotong sapi kecuali mengasah parang secara rutin setiap hari agar tajam.

Sumber: Tribun Jogja
Mulai dari
Parang 30 Cm
Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved