Unik, Panitia Sadranan di Krandon Kenakan Batik dan Sajikan Seni Hadrah
Puluhan panitia sadranan tersebut tampil necis dengan setelan batik lengkap dengan blangkon.
Penulis: app | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menjelang bulan puasa, lazim ditemui masyarakat Jawa mengunjungi makam untuk berziarah atau biasa disebut tradisi nyadran dalam bahasa Jawa.
Begitu pula di Padukuhan Krandon, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Minggu (21/05/2017), ratusan masyarakat memadati sebuah makam di kampung tersebut.
Namun, ada yang unik dalam acara yang turun temurun digelar satu tahun kali tersebut.
Puluhan panitia sadranan tersebut tampil necis dengan setelan batik lengkap dengan blangkon.
Alhasil, penampilan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat.
"Ini masyarakat Krandon dan sekitarnya melaksanakan kegiatan rutin setiap tahun sekali nyadran. Kegiatan diringi panitia menggunakan khas jawa saat prosesi ruang transit menuju makam," jelas Sutanto, salah seorang panitia.
Sutanto pun menjelaskan sejak dahulu memang sudah menjadi adat menyambut masyarakat nyadran dengan pakaian adat Jawa.
Namun kali ini, lebih digiatkan lagi. Tidak lain sebagai salah satu wujud nguri-nguri budaya Jawa.
"Nek wong nggo blangkon menghormati orang akan lebih bagus," kisahya.
Selain itu, dalam prosesi nyadran masyarakat juga diiringi kesenian hadrah dan rebana. Diundang pula KH Lasiman dari Godean untuk memberikan ceramah kepada peserta nyadran. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/nyadran-krandon_20170521_205752.jpg)