Pasar di Sleman Ini Menjadi Tempat Nyadran

Selesai dengan kegiatan di makam, warga kemudian pulang untuk mengambil bunga dan ditaburkan di makam leluhur.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: oda
tribunjogja/rento ari
Ratusan warga dukuh Saren desa Wedomartani, Ngemplak, Sleman mengikuti kegiatan nyadran menyambut datangnya bulan puasa di pasar dukuh setempat, Rabu (17/5/2017). Berbeda dari kegiatan nyadran di tempat lain yang difokuskan di masjid maupun makam, nyadran di dukuh ini dipusatkan di pasar setempat. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Menyambut datangnya bulan puasa, masyarakat Jawa memiliki tradisi berupa nyadran atau membersihkan makam leluhur dan diakhiri dengan kenduri di makam.

Namun di dukuh Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, warga setempat menggelar nyadran di pasar. Tradisi inipun sudah berlangsung bertahun-tahun.

Nyadran di Saren digelar pada Rabu (17/5/2017) pagi dengan warga setempat melakukan kegiatan bersih lingkungan. Aksi kebersihan ini kemudian berlanjut ke tiga makam yang ada di dukuh tersebut.

Selesai dengan kegiatan di makam, warga kemudian pulang untuk mengambil bunga dan ditaburkan di makam leluhur.

Puncak kegiatan nyadran ini adalah doa dan makan bersama di pasar yang ada di wilayah dukuh setempat.

Warga membawa makanan untuk disantap bersama setelah doa yang digelar oleh pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat.

Kondisi udara yang panas cukup menyengat tidak menyurutkan semangat ratusan warga yang telah memadati pasar untuk mengikuti jalannya puncak acara.

Di setiap los pasar terdapat kotak yang disebut jodhang yang berbentuk seperti peti kecil. Jodhang yang tertutup kain tersebut nampak ditunggui oleh para perempuan.

Selesai pembacaan doa, ratusan warga kemudian membuka selubung kain pada jodhang dan nampaklah isinya berupa beragam makanan.

Jodhang tersebut menurut kepala dukuh setempat, Hadi Pandriyo, merupakan sumbangan dari setiap keluarga. Siapapun yang hadir bisa berbagi makanan untuk disantap bersama.

"Ini merupakan ungkapan syukur warga. Hidangan yang ada di jodhang juga beragam, namun umumnya ada lima macam dengan makna tertentu yang baik," katanya.

Hadi menjelaskan, ubo rampe di sadranan tersebut berupa tumpeng, ingkung (ayam utuh), kolak, juga ketan yang berupa jadah atau tape ketan.

Ketan ini menurutnya bermakna simbol upaya untuk merekatkan persaudaraan.

"Masih ada pula apem, sebagai simbol saja supaya warga diberikan ketentraman dan kekompakan," imbuhnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved