Yogyakarta Terancam Krisis Air Bersih
Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, hotel dan apartemen tersebut menggunakan sumber air yang berasal dari air sumur bukan PDAM.
Penulis: gil | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrar Gilang Rabbani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Banyaknya keluhan warga mengenai kurangnya distribusi air bersih dan sulitnya memperoleh air bersih menjadi masalah yang serius di kota Yogyakarta. Krisis air bersih di kota Yogyakarta semakin mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut pernah digambarkan dalam sebuah film berjudul ‘Jogja Darurat Air’ karya Teguh Supriyadi tahun 2016 yang menceritakan keresahan warga di Miliran dan Karangwuni yang mengalami kekurangan air sumur sejak hotel dan apartemen dibangun diwilayah sekitar.
Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, hotel dan apartemen tersebut menggunakan sumber air yang berasal dari air sumur bukan PDAM.
Sehingga menyebabkan permukaan air sumur didaerah tersebut menurun dan bahkan kering.
Yogya Krisis Air
Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta Yesica Puteri memaparkan, data dari BPS mengenai sumber air PDAM pada tahun 2014 menunjukkan 38,57% menggunakan air tanah sebagai sumber airnya
. Sedangkan pada tahun 2015 penggunaan air tanah sebagai sumber air oleh PDAM meningkat menjadi 87%.
"Padahal hampir separuh dari masyarakat Yogyakarta menggunakan air tanah sebagai sumber air minumnya. Pemborosan terhadap air tanah ini menjadi masalah serius hingga menyebabkan Yogyakarta krisis air bersih, Karena pada tiap tahunnya, kondisi air tanah di Yogyakarta mengalami penurunan hingga 50 cm," papar Yesica.
Bila diasumsikan masyarakat Yogyakarta dapat menghabiskan air tanah 200.000 liter/hari dan hotel 400 liter/hari, bagaimanakah kondisi air tanah dalam 10 tahun kedepan?
Apakah anak dan generasi kita selanjutnya memperoleh air bersih yang layak? Maka dari itu diperlukan adanya solusi maupun perbaikan yang berkelanjutan.
Pada dasarnya jumlah air didunia tidak berkurang, hanya bentuk dan kualitasnya yang berbeda. Air yang digunakan berasal dari dalam tanah akan dapat kembali ke dalam tanah, asalkan pemakaian air tidak digunakan secara berlebihan.
Namun, kondisi air di Yogyakarta telah mengalami defisit air bersih akibat pemakaian dan tingkat kebutuhan akan air yang meningkat. Sedangkan siklus air untuk mengisi kembali air tanah tidak seimbang.
"Sehingga dalam menjaga kualitas dan kuantitas air bersih di Yogyakarta, perlu adanya tindakan yang konsisten dan berkelanjutan. Untuk memenuhi permintaan air yang persediaannya semakin terbatas, diperlukan upaya ‘panen air’," sebutnya.
Memanen air hujan jadi salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan air dalam rumah tangga.