Bulog Bantah Harga Gabah Ditingkat Petani Anjlok

Gabah yang dihasilkan petani tidak hanya kualitasnya menurun, tapi juga jumlah gabah yang dipanen menurun drastis.

Penulis: usm | Editor: oda
tribunjogja/anggapurnama
Petani sedang mengikat tanaman padi yang ambruk akibat banjir dan angin kencang. (ilustrasi) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kepala Seksi (Kasi) Umum dan Humas Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Yudha Ajipribawa menyebut jika saat ini tidak ada harga gabah anjlok di wilayah DIY, termasuk Bantul.

Menurut dia, pihaknya telah mengecek petani di Pundong, Bantul, yang mengeluhkan harga gabah anjlok.

Sesampainya di sana petugas Perum Bulog memang mendapati harga gabah turun, tapi hal itu diakibatkan padi terserang hama sehingga kualitasnya menurun.

"Kami sudah klarifikasi di lapangan, hasilnya harga gabah bukan anjlok," ujarnya, Minggu (26/2/2017).

"Memang di sana itu ada petani yan tidak jual (gabah buat disimpan), tapi itu karena jumlah gabah sedikit dan juga karena padi kena hama patah leher," tambahnya.

Karena terjangkit hama tersebut, gabah yang dihasilkan petani tidak hanya kualitasnya menurun, tapi juga jumlah gabah yang dipanen menurun drastis.

Sebab itu, banyak warga yang kemudian memilih menyimpan gabahnya.

Dari hasil pantauan tersebut, pihaknya mengaku juga tidak mendapati adanya petani yang menjual gabah kisaran harga Rp 2.800 atau Rp 2.400.

Sehingga dia memastikan jika harga gabah di tingkat petani lebih dari Rp 3 ribu, sebagaimana ketentuan harga gabah yang berlaku.

"Harga gabah itu harus lebih dari HPP (Harga Pokok Penjualan), kalau sekarang HPP gabah kering sudah 3.750 untuk tingkat petani," jabarnya.

"Aturan HPP ini berlaku untuk Gabah Kering Panen (GKP), dengan kadar air di bawah 25 persen," imbuhnya.

Bentuk Satgas

Walaupun membantah harga gabah tingkat petani di DIY turun, Yudha mengakui memang sangat mungkin gabah petani dibeli di bawah ketentuan HPP.

Itu bisa saja terjadi jika petani menjual gabah ke tengkulak, karena karakteristik tengkulak yakni membeli gabah serendah-rendahnya.

Sebab itu, pihaknya meminta agar petani tak lagi menjual gabah ke tengkulak, tapi langsung ke bulog.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved