KOLOM 52
Merayakan Pemecatan Claudio Ranieri
Dan akhirnya, pria tua asal Italia bernama Claudio Ranieri harus bertanggung jawab dengan cara menerima pemecatan.
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM - Berjarak satu poin saja dengan klub di zona degradasi Premiere League musim ini, adalah prestasi buruk bagi sebuah tim yang musim lalu adalah juara bertahan liga yang konon paling kompetitif sedunia.
Apa yang mau dibanggakan untuk pencapaian itu? Memalukan!
Dan akhirnya, pria tua asal Italia bernama Claudio Ranieri harus bertanggung jawab dengan cara menerima pemecatan.
Masa bodoh, meski tim yang empat hari lalu masih dinakhodai itu bisa bertahan di babak knock out Liga Champions Eropa, dan mungkin saja bisa lolos ke perempat final mengingat hanya tertinggal tipis 2-1 dengan tuan rumah Sevilla di leg pertama.
Prestasi musim lalu? Sudahlah, lupakan saja. Benar, narasi Leicester City musim lalu adalah serupa goresan cat pada kanvas lukisan surealis.
Tak ada yang menyangka tim yang semusim sebelumnya hanya berjuang bisa bertahan di kasta tertinggi sepakbola negeri Ratu Elizabeth, justru menjadi sang pemenang.
Anehnya, dengan selisih angka signifikan dengan para pesaingnya yang memiliki modal berlimpah, semacam Spurs, City, United, Arsenal, Liverpool, bahkan Chelsea yang musim lalu serupa tim semenjana.
Benar pula, jika dalam seabad lebih perjalanan sejarah Leicester City tak pernah merengkuh trofi liga teratas Inggris, berhasil membuat seluruh penggemarnya merasakan euforia.
Ingat, 100 tahun lebih, Bung dan Nona! Yang berarti lebih lama dibandingkan umur republik ini.
Ranieri-lah yang berhasil menggoreskan tinta sejarah itu.
Pria asal Setubal yang musim lalu dipecat Chelsea tak lama setelah dikalahkan Ranieri pun mengamini jika sejarah itu tak akan pernah dihapus sampai kapanpun.
Bahkan dengan keputusan pemecatan sang arsitek 4-4-2 yang saat ini ini dianggap sebagai skema usang nan membosankan.
Sepak bola modern yang mengedepankan pencapaian, juga uang, merupakan mesin yang banal.
Adalah hal wajar melihat seorang pelatih ditendang dari jajaran pemimpin skuat jika tak mampu meraih ekspektasi gilang-gemilang.
Rafael Benitez, Frank de Boer, Louis van Gaal, bahkan Jose Mourinho pun pernah mengalami cerita yang sama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cranieri_20160615_183514.jpg)