Teh Daun Sukun ala Mahasiswa UGM Ini Berkhasiat Sembuhkan Penyakit Jantung dan Ginjal
Mahasiswa dan alumni Kampus UGM berhasil mengolah daun sukun sebagai teh yang mampu mengobati penyakit ginjal dan jantung.
Penulis: gil | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM - Kekayaan alam di Indonesia dinilai belum banyak dimaksimalkan banyak orang. Padahal berbagai tanaman yang sering kita jumpai bisa memberikan manfaat yang besar.
Mahasiswa dan alumni Kampus UGM berhasil mengolah daun sukun sebagai teh yang mampu mengobati penyakit ginjal dan jantung.
Mahasiswa Ilmu Komputer Suhartono bersama dua temannya, Retno Wulandari dan Yunita Praptiwi yang merupakan alumni Biologi UGM, telah mengembangkan dan memproduksi teh herbal dari daun tanaman sukun.
Diolah sendiri dari pekarangan rumah Suhartono, produk teh yang dinamai Teh Laasyaka ini berhasil dipasarkan ke hampir seluruh wilayah Indonesia.
“Daun sukun di Indonesia belum banyak dimanfaatkan, paling hanya untuk pakan ternak. Karenanya kami berusaha tingkatkan nilai dan manfaat daun suku dengan diolah menjadi teh herbal yang bermanfaat bagi kesehatan," ujar Suhartono pada Senin (6/2/2017).
Pada awalnya, Suhartono melihat banyak pohon sukun di rumahnya dan hanya diambil buahnya saja, namun daunnya yang lebar begitu melimpah. Ia bersama kedua temannya kemudian menggali informasi tentang manfaat daun sukun dan berencana untuk memanfaatkannya.
Suhartono menjelaskan, berdasarkan penelitian LIPI yang dilakukan oleh Tjandrawati, daun sukun bermanfaat menjaga Jantung dari kerusakan sistem kardiovaskuler karena daunnya mengandung flavonoid dan sitosterol. Kandungan dalam daun sukun rupanya juga mampu membantu penyembuhan berbagai penyakit antara lain ginjal, darah tinggi, dan diabetes.
"Kandungannya itu bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol sehingga baik bagi yang berpenyakit jantung. Selain itu yang mengalami gagal ginjal, kandungan kreatinin dan ureumnya bisa turun," paparnya.
Tanpa Pewarna
Retno menegaskan bahwa teh daun sukun buatannya terbuat 100 persen dari daun sukun dan tanpa bahan pengawet. Selain itu, tidak diberikan zat pewarna seperti teh-teh kemasan pada umumnya.
"Untuk mengkonsumsi teh daun sukun ini, setelah dicelupkan atau diberi air panas harus diaduk terus selama 4-5 menit baru bisa berwarna, beda dengan teh kemasan lain yang ketika dicelupkan langsung berwarna coklat, itu berarti pakai pewarna," ungkap Retno.
Ia menjelaskan bahwa pengolahan daun sukun menjadi bubuk teh begitu sederhana. Daun-daun yang masih muda dan segar dipetik lalu dicuci bersih. Kemudian, daun dipotong-potong dan dijemur selama 3-4 hari hingga dibiarkan mengering. Setelahnya, daun yang sudah kering dihaluskan dan dioven, baru kemudian dilakukan pengemasan.
Teh Daun Sukun Lasssyaka telah dikemas dalam dua jenis produk, yakni teh celup dan teh tubruk. Teh celup berisi 20 kantong dihargai Rp 20 ribu, sedang kemasan tubruk dengan isi 35 gram dijual seharga Rp lima ribu.
"Usaha produksi rumahan yang dimulai sejak tahun 2013 ini mampu memproduksi 400-500 pack per bulannya dengan rata-rata omset Rp 8-10 juta per bulan," sebutnya.
Produk teh sendiri telah mendapat izin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan dipasarkan melalui online di tehdaunsukun.co.id. Walau telah meraih omzet yang cukup tinggi, namun Suhartono dan Retno bercita-cita meningkatkan pemasaran lebih luas lagi.
"Masih ingin meningkatkan penjualan karena manfaatnya yang tinggi, terutama banyak penderita ginjal dan jantung yang rutin mengkonsumsi teh ini. Selain itu, ini juga bisa mempromosikan bahwa tanaman di Indonesia kaya akan manfaat," kata Suhartono. (Ikrar Gilang Rabbani)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/teh-daun-sukun-ugm_20170207_082724.jpg)