Kekerasan dalam Diksar Mapala UII

Mapala UII Ajarkan Filosofi Ditampar karena Kurang Fokus dan Agar Tidak Hipotermia

Walau ia tidak bisa menyebut secara rinci, momen apa saja kekerasan dilakukan namun pemukulan dengan ranting, tamparan, dan injakan kaki terjadi.

Penulis: gil | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM | Tris Jumali
Sekretariat Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Islam Indonesia (MAPALA UNISI) yang berada di jalan Cik Di Tiro No. 1 kotak pos 56, Yogyakarta dikirimi karangan bunga, Rabu (25/01/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kegiatan saat pendidikan dasar (Diksar) Mapala Unisi The Great Camping (TGC) di Tawangmangu masih misteri lantaran pihak kampus UII belum membeberkan hasil investigasi internalnya.

Peserta satu per satu menceritakan bagaimana proses diksar oleh seniornya selama tujuh hari.

Seorang peserta The Great, yang identisasnya dirahasiakan, membenarkan perlakuan kekerasan para seniornya dalam memberikan materi.

Walau ia tidak bisa menyebut secara rinci, momen apa saja kekerasan dilakukan namun pemukulan dengan ranting, tamparan, dan injakan kaki terjadi kepada para junior.

"Saya enggak diinjak tapi tamparan ada. Itu kan ada filosofinya, ditampar karena kurang fokus agar atau agar tidak kedinginan biar tidak hipotermia," ujarnya saat dihubungi Tribun Jogja pada Rabu (25/1/2017).

Hasilnya, ia mengalami beberapa luka lecet di lengan. Hal tersebut karena ia harus merayap dalam diksar yang diterapkan oleh seniornya.

Dia menuturkan bahwa diksar berisi materi-materi seperti rock climbing (panjat batu), Orienteering (navigasi) hingga survival (bertahan hidup).

"Alhamdulillah sehat, tidak ada keluhan berarti. Paling hanya lapar karena materi survival selama tiga hari, tapi sehat kok. Doakan saja sehat semua," tuturnya.

Ia sendiri sudah melakukan cek kesehatan dua kali ke Rumah Sakit JIH. Usai cek fisik dan laborat, ia dinyatakan sehat. Namun 10 temannya harus dirawat inap karena berbagai hal.

Baca: Ada Pembagian Kelompok dalam Diksar Mapala UII, 3 Korban Meninggal Diduga Satu Tim

Selama proses Diksar, 37 peserta dibagi ke dalam lima kelompok dengan masing-masing 7-8 orang. Tiap kelompok dibina oleh tiga senior.

Mahasiswa angkatan 2015 ini sendiri rupanya satu kelompok dengan Ilham Nurpadmy Listia Adi dan Syaits Asyam, dua dari tiga mahasiswa UII yang tewas.

"Iya saya satu kelompok dengan mereka berdua. Saya sendiri enggak tahu soal Syaits yang ditarik senior, saya enggak lihat itu," ungkapnya.

Ia sendiri tidak kenal dengan tiga senior yang membina kelompoknya. Dia dan kawan-kawannya tidak mengetahui nama dari para senior yang membina mereka selama diksar.

"Saya enggak tahu nama seniornya, karena mereka emang enggak pernah mempekenalkan diri dan kita enggak berani untuk namanya juga. Kan kita cuma daftar, lalu ikut," ucapnya.

Selain itu, dari penuturannya, panitia diksar saat di lapangan (Tawangmangu) dengan panitia saat peserta mendaftarkan diri berbeda. Sehingga dia tidak mengenali satupun panitia yang saat di Tawangmangu.

"Itu beda, makanya saya enggak kenal. Saya enggak kenal juga dengan yang namanya mas Yudhi. Saya juga enggak ngerti kok Syaits itu bisa tahu mas Yudhi, mungkin mereka sempat kenalan," katanya...(*)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved