Monyet Rusak Alat Detektor Longsor

Longsor kembali terjadi di Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Rabu (18/1/2017) petang kemarin.

Kontributor Ungaran, Syahrul Munir
Seorang guru mengecek kerusakan atap bangunan mushola di SMP Negeri 3 Banyubiru, yang terletak di Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Kamis (19/1/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM - Longsor kembali terjadi di Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Rabu (18/1/2017) petang kemarin.

Sebuah batu memporak-porandakan atap musala dan bangunan lainnya di SMPN 2 Banyubiru.

Musibah tersebut sekaligus mengirim "sinyal" bahaya bagi warga Desa Wirogomo, khususnya 300 kepala keluarga di Dusun Krajan Kidul dan sebagian Dusun Krendal Ngisor.

Sinyal bahaya itu menyusul ketidakmampuan warga setempat dalam membaca tanda-tanda alam, sementara teknologi yang ditanam di atas bukit Gunung Kelir, yakni early warning system (EWS) atau detektor longsor sudah tidak berfungsi.

Kepala Desa Wirogomo, Suwignyo mengatakan, EWS rusak sekitar bulan Juni 2016 oleh hewan-hewan liar yang ada di bukit Gunung Kelir.

"Saat itu sirine berbunyi, tapi tidak ada kejadian apa-apa. Lantas tim SAR desa ngecek, ternyata diogah-ogah (digoyang-goyang) monyet, dicabut untuk sirinenya," kata Suwignyo, Kamis (19/1/2017) siang.

Beberapa hari kemudian, saat terjadi pohon tumbang, panel surya bagian dari EWS juga ikut tertimpa pohon sehingga mengalami kerusakan.

Pihak desa sudah melaporkan kejadian itu dan meminta kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang untuk memperbaiki atau mengganti fasilitas EWS yang baru.

Tidak berfungsinya EWS ini, lanjutnya, menambah kekhawatiran masyarakat Desa Wirogomo menyusul kondisi cuaca akhir-akhir ini ketika curah hujan cukup tinggi.

"Kalau dulu kejadian alam itu adalah tanda perubahan musim. Kalau ada longsor, (berarti) akan kemarau. Kalau (hutan) gunung terbakar, itu akan turun hujan. Tapi sejak tahun 2015, kita melihat di televisi, masyarakat menjadi was-was," ungkapnya.

Menyadari wilayahnya merupakan daerah rawan bencana, warga Desa Wirogomo sudah membentuk tim siaga bencana yang sewaktu-waktu siap bergerak mengevakuasi warganya, bilamana terjadi bencana.

Selain itu, Pemerintah Desa Wirogomo juga menerbitkan larangan kepada masyarakat untuk bercocok ganam di dearah yang mempunyai kemiringan tertentu yang potensial longsor.

"Kita secara adat sudah berdoa supaya tidak terjadi lagi dan kita ada penanaman untuk penguatan tanah. Lha, karena di situ ada lereng, kita mencegah di atas supaya tidak untuk bercocok tanam," imbuhnya. (Kompas.com/Kontributor Ungaran, Syahrul Munir)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved