FK UGM Kumpulkan Data Genom Pasien Kanker Indonesia
Pengumpulan data genom dan genetik dari pasien kanker ini akan melibatkan dokter, tenaga kesehatan dan peneliti kanker dari perguruan tinggi lain.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fakultas Kedokteran UGM akan mengumpulkan data genomik kanker di Indonesia.
Hal itu dilakukan untuk membantu proses penanganan kanker secara lebih baik.
Pengumpulan data genom dan genetik dari pasien kanker ini akan melibatkan dokter, tenaga kesehatan dan peneliti kanker dari perguruan tinggi lain.
"UGM akan mengembangkan data genom kanker yang akan kita kumpulan berdasarkan populasi orang Indonesia. Belum ada data cancer genome di Indonesia," kata pakar kanker dari FK UGM, Sofia Mubarika pada sosialisasi kegiatan pelatihan penanganan kanker yang dikemas lewat program winter course yang diikuti 50 peneliti dan mahasiwa kedokteran dari Indonesia, Malaysia, Jepang dan Thailand di FK UGM, Senin (16/1/2017).
Sofia Mubarika menerangkan, pengumpulan data genom kanker di Indonesia sangat membantu dalam pengobatan kanker.
Pasalnya, deteksi kanker berbasis genetik ini sangat berperan untuk mengetahui penyebab kanker dan respon gen di tubuh pasien kanker terhadap pengobatan dan terapi yang akan digunakan.
"Satu individu bisa responsif dalam pengobatan tertentu karena ada unsur genetik sehingga bisa mendapatkan best treatment dan efisien dalam pengobatan. Jika tidak cocok maka tidak diberikan," katanya.
Untuk mengumpukan data genom kanker tersebut, pihaknya akan membentuk konsorsium kanker Indonesia dengan membangun jaringan antar perguruan tinggi yang sudah ada.
"UGM memang sudah menyiapkan satu penelitian unggulan di bidang kanker satu di antaranya cancer genom sehingga nantinya bisa bermanfaat bagi penanganan kanker di Indonesia nantinya," jelasnya.
Melalui data genom dan gen pasien kanker ini, nantinya maka pengobatan kanker untuk setiap pasien tidak lagi sama tergantung dari data genetik.
Namun begitu, pihaknya akan menggandeng pihak BPJS dan Kementerian Kesehatan untuk bisa memanfaatkan data tersebut untuk keperluan adanya jaminan biaya pengobatan dan terapi pada pasien kanker di rumah sakit,
"Apabila sudah diperoleh data genom maka jenis terapinya seharusnya bisa dijamin semua oleh BPJS," imbuhnya.
Susanna Hilda Hutajulu selaku anggota peneliti kanker dari FK UGM lainnya menerangkan, pengobatan kanker tidak semua bisa dilakukan lewat tindakan kemoterapi.
Namun begitu untuk kanker payudara, kemoterapi sebagian besar masih dilakukan dikarenakan lebih dari 80 persen pasien kanker yang berobat ke rumah sakit rata-rata penyakit kanker yang dideritanya sudah masuk ke stadium empat.
"Terapi kanker tergantung jenis kankernya. Namun terapi kanker harus dipetakan berdasarkan genetik," terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kanker_0106_20150601_105953.jpg)