Kolom 52

Sopir Bukan Om Telolet Om

Angkutan umum seolah 'hilang pamor' ditinggalkan penumpang yang beralih menggunakan kendaraan pribadi hasil kreditan.

Penulis: Iwan Al Khasni | Editor: oda
tribunjogja/singgih wahyu
Belasan remaja tampak sedang berburu Telolet di ruas jalan nasional wilayah Wates, Kulonprogo, Kamis (22/12/2016). 

TRIBUNJOGJA.COM - Fenomena Om Telolet Om yang mewabah baru baru ini mengingat pada satu perjalanan, ketika saya rajin menggunakan jasa angkutan umum bus antar kota antar provinsi (AKAP) dari kampung halaman menuju perantauan.

Satu catatan yang pasti dari perjalanan itu adalah, angkutan umum sepi penumpang, kini orang orang lebih banyak memilih menggunakan kendaraan pribadi untuk bepergian dibandingkan naik angkutan umum. Bukan salah penumpang.

Tentu saja pilihan itu berdampak pada menurunnya penghasilan awak bus, khususnya jenis AKAP yang menawarkan jasa antar dari kota ke kota.

Angkutan umum seolah 'hilang pamor' ditinggalkan penumpang yang beralih menggunakan kendaraan pribadi hasil kreditan.

Beginilah kira kira mayoritas kondisi penumpang bus dari hari ke hari. Ada kalanya ramai, biasanya akhir pekan atau awal pekan. Isinya, mahasiswa atau pekerja yang memilih seminggu sekali pulang kampung.

Di luar hari hari itu, penumpang bus, sepi.

Pak kernet pun mulai curhat, beda dengan dahulu, sekarang sebelum berangkat narik bus, bisa ke sawah dulu. Jaman berganti, penguna bus tak seramai dahulu, katanya nrocos dengan kawan lama yang kebetulan bertemu di atas bus.

Saking sepinya, pernah juga bus hanya mengangkut 2 penumpang antar kota dalam provinsi, layaknya mobil pribadi. Dampaknya apa? PO Bus sebagian besar mengkeret, dari 14 unit bus jadi 5 unit, dari jaya jadi tak ada.

Onderdil unit jadi tambal sulam,  cat bus mengelupas, ban tak ada lagi ukirannya, suara baut mur gemrincing, jok berdecit seperti suara tikus kejepit. Wajar saja, kondisi penumpang sepi bikin PO tak mampu lagi pikirkan perawatan.

Bus terus merayap, berharap ada penumpang, om sopir berulang kali tekan klakson jika melihat ada orang berdiri di pinggir jalan, klakson bukan telolet itu seolah berkata 'ayo naiklah..jok masih sisa banyak', ayolah setoran belum cukup nih, tak ada sisa buat keluarga di rumah'.

Sayangnya ajakan itu sirna, mereka tak ingin naik. Pedal gas mulai diinjak lebih dalam, bus melaju kencang lewati kota kota satelit menuju kota kosmopolitan.

Sejurus kemudian, om sopir tekan klakson berulang kali tanda dia ogah melambat. Salip kanan salip kiri. Segelintir penumpang mulai pegangan sisi jok yang bergoyang. "Bus tua tapi lajunya masih luar biasa,"celetuk kernet.

Tibalah di terminal terakhir, om sopir buru buru turun, loncat dari jok kemudian pergi menghilang dari pandangan, mungkin dia pergi merenungkan apa yang sedang terjadi.

Kenapa kini orang ramai ramai berjejer di pinggir jalan menanti kedatangan bus, sayangnya bukan untuk naik bus, cuma ingin dengar suara klakson telolet saja. Om sabar om.. (Iwan Al Khasni)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved