Ini Cerita Nama Wedha di Balik Penamaan WPAP
Pecinta seni boleh berbangga dengan Wedha, karena berkat talentanya Indonesia memiliki aliran seni moderen milik Indonesia.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Wedha Pop Art Potrait (WPAP) tak terlepas dari nama Wedha Abdul Rasyid (65), seniman grafis yang menciptakan aliran WPAP atau dulunya disebut Foto Marak Berkotak (FMB). Bapak ilustrasi Indonesia ini memulai kiprahnya sebagai ilustrator sejak tahun 1970an.
Mulai 1977, ia bergabung dengan Majalah Hai. Namanya melambung ketika ia banyak membuat ilustrasi pada karya-karya fiksi Arswendo Atmowiloto dan Hilman Hariwijaya dalam karya Lupus.
Di majalah itu pula, ia mengerjakan potret para tokoh dunia dari berbagai latar belakang,baik tokoh politik, musisi, seniman yang menjadi liputan majalah tersebut.
Pada tahun 1990, Wedha bereksplorasi menggambar ilustrasi wajah dengan cara baru, yakni dengan meninggalkan skin tone. Hal ini juga didorong karena penurunan daya penglihatannya pada usia 40an tahun kala itu. Penurunan daya lihat menyulitkannya untuk menggambar wajah dalam bentuk realis dan detil.
Wedha kemudian mencoba ilustrasi bergaya kubisme untuk gambarnya. Gaya ini kemudian tumbuh dan semakin populer sebagai bagian dari gaya pop art bahkan hingga saat ini. Istilah FMB pun kemudian dipatenkan menjadi WPAP, ada pula yang menyebutnya sebagai aliran Wedhaism.
Berbeda dengan aliran realis pada umumnya, WPAP memiliki bentuk dan teknik yang sangat khas. Gambar wajah obyek layaknya susunan mosaik warna yang dipecah menurut faset-fasetnya.
Bukan dalam pengertian kubisme, melainkan menggabungkan ragam warna yang harmonis sehingga membentuk tokoh yang digambarkan. Meski karyanya tidak detil, namun mampu mewakili karakter wajah dengan sangat baik.
Kontribusi Wedha tidaklah kecil bagi Indonesia. Pecinta seni boleh berbangga dengan Wedha, karena berkat talentanya Indonesia memiliki aliran seni moderen milik Indonesia.
Ya, WPAP telah dipatenkan menjadi milik Indonesia.
Gaung WPAP pun kini telah mendunia, tak hanya dicintai pecinta seni di Indonesia namun juga hingga luar negeri. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/seni-wpap_20161220_170817.jpg)