Defika Hanum Hadirkan Karakter Dramatik dalam Modest Style

Trend modestyle yang sedang mendunia saat ini dimanfaatkan oleh perancang busana lokal, Defika Hanum dengan memadukan batik dalam koleksinya.

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Bramastyo
Busana Rancangan Defika Hanum 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Trend modestyle yang sedang mendunia saat ini dimanfaatkan oleh perancang busana lokal, Defika Hanum dengan memadukan batik dalam koleksinya.

Rancangan yang diberi judul The Parang Ethnico ini memberikan sentuhan dramatik dalam trend modestyle.

Modestyle merupakan fashion yang memiliki konsep pakaian sopan, bisa digunakan untuk hijab maupun non hijab.

Untuk mencirikan Indonesia, Defika Hanum menggunakan motif-motif batik dalam rancangannya.

Motif parang berwarna cokelat tua dan putih menjadi motif utama dalam koleksi terbarunya kali ini.

Batik tulis kombinasi cap ini dipadu padankan dengan kain katun, sifon sutra, dan organdi sutra sehingga melahirkan karya unik.

Tak jarang, Defika memadukan batik parang dengan motif polkadot serta aplikasi kepangan pada lining outfitnya untuk memberikan tampilan etnik.

Penggunaan warna merah, hitam dan cokelat pun membuat koleksi ini semakin dramatik.

"Saya ingin memberikan kesan feminim, unik, etnik, baru, beda, ada handicraft-nya serta detail yang cukup dramatik dalam The Parang Ethnico ini," ujarnya saat ditemui dalam acara Food and Fashion di Grand Aston Hotel Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Melalui konsep ini, Defika menciptakan outfit berupa outer, blazer, dress yang bisa digunakan secara mix and match.

Sebagaimana modestyle, anggota Indonesian Fashion Chamber (IFC) Yogyakarta ini banyak menggunakan cutting loose sehingga tidak tampak siluet tubuh.

Penggunaan motif parang sendiri sebenarnya ada aturannya untuk dikreasikan.

Namun pada koleksinya kali ini, Defika memberanikan diri untuk tidak berpatokan pada pakem falsafah batik yang sakral.

"Ya masing-masing punya opini sendiri-sendiri, kalau saya pribadi yang penting tidak merusak batiknya sendiri dan terlihat bagus saat dikenakan orang," paparnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved