Meski Dilarang Menyeberangi, Warga Tetap Lintasi Jembatan Nambangan
Seakan acuh dengan resiko keselamatannya, mereka tetap saja menerobos papan yang sebelumnya dipasang pemdes setempat dan warga sekitar.
Penulis: usm | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Usman Hadi
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Perintah Bupati Bantul, Suharsono kepada warga untuk tidak melintasi Jembatan Nambangan tampaknya tak diindahkan sejumlah warga.
Buktinya hingga sekarang puluhan warga tiap harinya masih nekat melintasi jembatan yang sudah mau roboh tersebut.
Seakan acuh dengan resiko keselamatannya, mereka tetap saja menerobos papan yang sebelumnya dipasang pemdes setempat dan warga sekitar.
Sebelumnya Suharsono Minggu (4/12/2016), mendatangi langsung Pedukuhan Nambangan. Kedatangannya yakni untuk memastikan sendiri kondisi jembatan yang dikabarkan rusak parah, akibat diterjang luapan Sungai Oya.
Dalam kesempatan itu dia sekaligus meminta kepada kades setempat untuk memasang papan seng, dengan harapan tidak ada warga yang nekat melintasi jembatan Nambangan, yang memang sudah tidak layak dilewati.
"Sebelum pak bupati datang, itu sudah ada warga yang masih saja nekat nerobos jembatan. Setelah pak bupati datang, ternyata masih saja ada yang ngeyel (nekat)," ujar seorang warga Nambangan, Ngamari, Kamis (8/12/2016).
"Kalau mereka dinasehati tidak ada yang mau dengar, malah marah-marah. Malah pernah saya tegur, mereka justru bilang 'Emang sopo kowe nglarang-nglarang (emang siapa kamu nglarang-nglarang)," tambahnya.
Tidak hanya pengendara sepeda ontel dan pejalan kaki saja yang kukuh melintasi Jembatan Nambangan, melainkan juga pengendara sepeda motor yang tetap nekat melintasi jembatan tersebut.
"Bahkan pengendara sepeda motor berboncengan saja tetap nekat," ulasnya.
"Kalau pejalan kaki dan pengendara sepeda ontel kebanyakan mereka melintasi jembatan untuk mencari pakan ternak dan pergi ke pasar," imbuhnya.
Sebagai warga asli Nambangan yang rumahnya persis berada di timur Jembatan Nambangan. Ngamari mengaku tak henti-hentinya memasang papan di pintu jembatan, dan dia selalu mengingatkan warga untuk tak nekat melintas.
Tapi karena banyak warga yang kukuh melintas, sebagai sesama warga dirinya tak bisa melarang paksa.
"Tapi kalau untuk anak-anak yang mau pergi ke sekolah, saya larang tegas, tidak ada toleransi, termasuk buat orangtua yang mengantar anaknya ke sekolah," lugasnya.
Kekhawatiran Ngamari, jika warga tetap nekat melintasi jembatan itu, sementara badan jembatan tak sanggup menahan beban, jembatan itu akhirnya roboh. Sehingga warga yang nekat melintas menjadi korban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/nekat-melintasi-jembatan_20161208_190835.jpg)