Sejumlah Calon Pamong Tirtomulyo Mengadu ke Polres Bantul

Seperti ketidakberesan nilai hasil seleksi yang disodorkan pihak desa dan panitia, dan sejumlah ketidakberesan berkas lainnya.

Penulis: usm | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Usman Hadi

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Merasa dicurangi saat proses pemilihan pamong di Desa Tirtomulyo, sejumlah calon pamong Tirtomulyo mendatangi Polres Bantul untuk berkonsultasi perihal dugaan kecurangan yang dilakukan tim sembilan maupun Kades Tirtomulyo.

Langkah mendatangi Polres Bantul ini dipilih, karena mereka tidak puas dengan jawaban yang dilontarkan kades dan tim sembilan selaku panitia seleksi pasca pemilihan.

Menurut calon pamong yang mengadu ke Polres ini, ada sejumlah indikasi kecurangan yang dilakukan panitia maupun lurah.

Seperti ketidakberesan nilai hasil seleksi yang disodorkan pihak desa dan panitia, dan sejumlah ketidakberesan berkas lainnya.

"Berkas pengumuman hasil seleksi KAUR Kesra itu tertera ditandatangani tanggal 28 November, padahal KAUR Kesra baru melaksanakan ujian tanggal 30 November," jelas calon KAUR Kesra, Hajat Basuki, Senin (5/12/2016).

Selain ketidakberesan penanggalan hasil ujian KAUR Kesra, dalam hasil pengumuman Sekdes atau carik justru nilai yang didapat peserta banyak kerancauan.

Pasalnya nilai calon carik untuk tes ujian tertulis ada yang mendapatkan nilai sampai 108, dari nilai maksimal hanya 100.

"Mengetahui hal ini kami protes ke pihak panitia, termasuk ke lurah," tambahnya.

Pasca protes, selang beberapa lama muncul revisi pengumuman hasil carik.

Berdasarkan revisi itu terdapat hal yang menjadi teka-teki para peserta pamong, pasalnya tidak hanya hasil tes ujian tertulis saja yang dirubah, melainkan juga hasil tes ujian psikotes.

"Untuk ujian tertulis di atas 100 semua diganti 90. Terus untuk ujian psikotes malah ada yang ikut diganti, ada yang semula dapat nilai 73 menjadi 90,83, ada yang awalnya 76,83 jadi 94.17, terus ada yang 71.33 jadi 80,58," ungkapnya.

Tentu perubahan nilai hasil seleksi carik di bagian psikotes hasil revisi mengkagetkan para peserta lainnya.

Mereka mempertanyakan, dasar apa yang dipakai tim sembilan untuk merubah nilai psikotes, padahal yang diprotes mereka awalnya hanya nilai tes ujian tertulis.

"Kalau waktu kami protes yang pertama itu pihak panitia katanya salah sistem," sebutnya. (tribunjogja.com)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved