Pemkab Bantul Bingung Perbaiki Kerusakan Bendung Karang

Pemkab Bantul mengaku dilema dan bingung untuk merevitalisasi bendung karang dan sejumlah tanggul yang rusak di Desa Donotirto, Kecamatan Kretek.

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: oda
tribunjogja/agung ismiyanto
Warga Donotirto melihat kondisi tanggul sungai di sisi utara Bendung Karang, Desa Donotirto, Kecamatan Kretek ambrol sepanjang 25 meter dengan ketinggian lebih dari 10 meter. Tanggul ini ambrol, Kamis (10/11/2016) malam lalu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul mengaku dilema dan bingung untuk merevitalisasi bendung karang dan sejumlah tanggul yang rusak di Desa Donotirto, Kecamatan Kretek.

Pasalnya, pihak Balai Besar Wilayah Sungai Serayu dan Opak (BBWSSO) hanya sanggup memberikan bantuan berupa bronjong untuk kerusakan tersebut.

Kepala Seksi (Kasi) Operasi Jaringan, Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bantul, Yitno menjelaskan, sejauh ini dari hasil rapat dengan BBWSSO, hanya akan membantu beberapa material untuk penanganan kerusakan.

Diantaranya adalah bronjong, karung plastik, dan karpet biotek. Pihak otoritas itu juga akan membantu alat berat berupa eskavator.

“Sebenarnya, itu khan wewenang BBWSSO untuk menangani bendung ini. Kalau kami harus membangunnya, kami tidak ada dana,” kata Yitno.

Yitno menambahkan, sejauh ini pihaknya pun tidak memiliki anggaran jika memang diminta untuk mengerjakan perbaikan kerusakan itu.

Meskipun hanya berupa material batu dan tenaga untuk perbaikan, akan tetapi, anggaran untuk hal tersebut belum ada.

“Apalagi, ini khan sudah memasuki akhir tahun,” ulasnya.

Di sisi lain, Yitno juga menjelaskan, jika bendung karang ini masih merupakan wewenang BBWSSO. Dia sempat kaget saat mendapatkan pernyataan jika bendung tersebut diklaim menjadi kewenangan Pemkab setempat.

Padahal, kata dia, belum ada hitam di atas putih penerimaan bendung karang ini.

“Kalau memang itu menjadi wewenang kami, kami akan melakukan kajian terhadap rencana renovasi bendung tersebut pada 2017 mendatang. Sementara, pembangunan bisa dilakukan pada tahun 2018 mendatang,” urainya.

Yitno menjelaskan, ancaman yang sangat mungkin terjadi jika kerusakan semakin meluas dan tak kunjung diperbaiki.

Menurutnya, perbaikan untuk tanggul dan bendung ini cukup mendesak agar tidak menimbulkan resiko.

“Kalau tanggul semuanya jebol, maka permukiman di kawasan Gading Daton akan terdampak. Akses jalan pun saat ini sudah terdampak dengan hal ini. Maka, sangat mendesak diperbaiki,” kata Yitno.

Sumber: Tribun Jogja
Mulai dari
Tanggul Ambrol
Halaman
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved